Rabu, 07 Oktober 2020

A Scribble and A Dream (66) - Belajar Merayu

Why we keep telling – and re-telling – our heart attack stories | Heart  Sisters

 BELAJAR MERAYU

 

"Rayulah dia"
"Menangkan hatinya"
Itu saran kakak kami
Pada kami yang kebingungan ini

Seperti apa wujudnya itu?

Bagaimana melakukannya
Tanpa kehilangan jati diri?

Karena apa yang kulakukan
Belum pernah kulakukan sebelumnya
Dan tak pernah kulihat terjadi
Dalam hari-hariku yang baru 3 dasawarsa ini


Apa yang aku rasakan?
Aku tak yakin.
Apa yang dia rasakan?
Aku lebih tak tahu.


Ah, inikah yang disebut orang
Rumitnya membangun cinta?


Dan di antara canggungnya rasa
Latihan mengucap kata-kata

Akalku berkelana
Ke antara awan pikiran
Yang bekerja keras
Berusaha membaca isi hati
Yang selama ini memilih tak bersuara

***

Kamis, 17 September 2020

A Scribble and A Dream (65) - The Fine Young Man In A Fine November

 Groom Walk Down The Aisle? | The Plunge

 THE FINE YOUNG MAN IN A FINE NOVEMBER


Verse:

Kupandang pintu
Yang terbuka itu
Menanti langkahmu
Menuju momen utamamu

Dan di antara melodi
Nyanyian jemari ini
Kilas balik menghiasi
Memori di dalam hati

Interlude:

Kau yang takut-takut mengintip
Dari balik jendela kelasku
Kau yang seringkali menyelinap
Bertualang dalam ingin tahumu

Reff:

Betapa sang waktu
Telah mengantarmu, membentukmu
Hingga kau tegap berdiri
Di hadapan kami, hari ini

Dan syukurku
Mengiring hidup barumu
Berjalanlah tanpa ragu
Bersama dia yang di sisimu

Hanya ini saja doa dariku
Tuhan terus kuatkanmu
Dalam menjaga janji sucimu

Outro:

And so I present this song
To the fine young man
Walking in a fine November 

P.S.:
"A fine young man". Cuma itu yang terbayang di benakku saat melihat sang pemuda yang duduk setiap hari di hadapanku di meja makan keluarga. Satu frase pendek yang terus membekas, disertai sebuah melodi yang terus mengiang di benak, sehingga terasa sayang dilupakan.

2 bulan, kurang sedikit. Itulah jumlah waktu yang kumiliki untuk menyelesaikan lagu ini.
Semoga bisa dituntaskan tepat waktu. 

***




Senin, 14 September 2020

Praying the Bible - Mazmur 14

  PRAYING THE BIBLE

MAZMUR 134

(Bacaan dari versi ESV)

Come, bless the Lord, all you servants of the Lord, who stand by night in the house of the Lord!
Lift up your hands to the holy place and bless the Lord!
May the Lord bless you from Zion, he who made heaven and earth!

Ya Tuhan, terima kasih karena sekali lagi Engkau sudah mengingatkan saya, bahwa Kaulah Sang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan bahwa Kaulah sumber segala berkat.

Tuhan, di sini saya, hambamu yang kurang setia, mohon Tuhan ampuni saya karena, boro-boro memujiMu, seringkali saya melupakan-Mu dalam kehidupan saya dan hidup melanggar kekudusan. Sungguh saya tidak layak untuk masuk ke tempat kudus-Mu dan memuji nama-Mu karena ketidaksetiaan saya.

Namun Tuhan, terima kasih juga karena dengan mengingat ketidaklayakan saya, saya pun mengingat kasih pengorbanan Kristus di kayu salib yang sudah menebus dosa saya, dan melayakkan saya yang tidak layak ini untuk bisa kembali masuk ke tempat kudus-Mu dan berelasi dengan-Mu.

Tuhan, sungguh indah pengorbanan Anak-Mu ini, yang adalah Kakak Sulung bagi kami semua, orang-orang tebusan ini. Ajarkanlah pada saya Tuhan untuk tidak main-main saat ibadah dan sungguh-sungguh masuk dengan penuh sukacita dan semangat untuk memuji-Mu, dengan kesadaran bahwa di mana pun saya hidup di dunia ini, itu semua adalah tempat kudus-Mu, bahkan tubuhku sendiri adalah bait kudus-Mu juga, Tuhan.

Sungguh kami tidak pernah kekurangan tempat untuk bisa memuji dan memuliakan nama-Mu, karena seluruh langit dan bumi ini adalah milik-Mu. Oleh karena itu, ajarkanlah saya untuk selalu mengingat bahwa seluruh hidup saya adalah ibadah di hadapan-Mu.

Tuhan, saya berdoa memohon supaya Tuhan bersedia mengingat dunia buatan-Mu yang saat ini sedang berkesusahan dan berduka akibat COVID-19. Tuhan, saya mohon, berbelas kasihan lah kepada kami, dan pulihkanlah kami. Biarlah Tuhan yang boleh mengajar dan membawa hati kami kembali kepadamu, termasuk hati para pembesar dan penguasa dunia yang harus membuat keputusan terkait COVID ini. Tuhan, hati kami berduka melihat keputusan-keputusan yang tidak bertanggung jawab dari para pemerintah kami, yang tidak takut akan Engkau. Ya Tuhan, mohon dengarlah keluh kesah kami, dan selamatkanlah kami dan rakyat kami. Datangkanlah keadilan-Mu dan anugerahkanlah hikmat-Mu, mohon jangan keraskan hati para penguasa kami. Terima kasih ya Tuhan. Dalam nama Anak-Mu yang tunggal, Yesus Kristus, kami sudah berdoa, amin.

Jumat, 11 September 2020

Praying the Bible - Mazmur 11

 PRAYING THE BIBLE

MAZMUR 11

(Bacaan dari versi ESV)

"In the Lord I take refuge"

Ya Tuhan, mohon ampuni dosaku karena seringkali, dalam menghadapi kesulitan, bukan pada-Mu saja aku berlindung, tapi kepada kekuatanku sendiri dan kepada orang-orang di sekitarku.

Memikirkan diri-Mu saja tidak, karena refleksku adalah berusaha memecahkan masalah ini secepat-cepatnya dengan kekuatan, kemampuan dan kepandaian saya sendiri.

Tolong ajarku untuk selalu memanggil nama-Mu terlebih dahulu dalam apapun masalah yang kuhadapi, bahkan dalam setiap kehidupanku sehari-hari, mohon Tuhan terus menaruh ingatan akan nama-Mu dalam hati dan pikiranku.

Ajarku untuk melepas dosa kesombongan ini, dan ajarku untuk berlindung dan bersandar pada kekuatan-Mu senantiasa, agar aku bisa belajar rendah hati, karena semua kekuatan, kesanggupan dan kemampuanku itu juga berasal daripada-Mu saja.

Terima kasih Tuhan, dalam nama Tuhan Yesus saya sudah berdoa, amin.

“Flee like a bird to your mountain, for behold, the wicked bend the bow; they have fitted their arrow to the string to shoot in the dark at the upright in heart; if the foundations are destroyed, what can the righteous do?”

Ya Tuhan, Bapa di Surga, saat aku merenungkan ayat ini, aku teringat akan anak-anak Tuhan, orang-orang Kristen yang menjadi pebisnis, politikus, mereka yang bergerak di bidang hukum, di bidang ekonomi, dan yang bekerja di pemerintahan. Di dalam pemuda, ada beberapa orang yang saya ingat, seperti Angga, bang Fansen dan John Nainggolan.

Merekalah yang berada dalam beberapa posisi paling rentan untuk "ditembak" oleh anak-anak si jahat, yang ingin menghancurkan mereka yang berhati lurus, orang-orang benar yang bijaksana.

Seringkali kondisi begitu devastating, Tuhan, hingga mereka, dan saya juga, merasa kecil hati, apakah damai sejahtera dan kebenaran Tuhan sungguh-sungguh akan terwujud di tengah dunia yang sudah begitu korup dan rusak ini, dan di tengah dosa yang begiu merajalela, sehingga malah menjadi suatu hal yang biasa.

Apakah perjuangan mereka, dan saya di profesi saya sendiri, akan menjadi suatu hal yang ternyata sia-sia? Akankah kami pergi tanpa melihat hasil buah perjuangan dan kerja keras kami? Tolong ampunilah hati kami yang sering ragu-ragu, dan mohon kuatkan semangat, hati, dan tenaga kami ya Tuhan, dalam terus menjalani panggilan kami.

Dalam skala yang lebih besar, Tuhan, ingatlah juga akan saudara-saudara kami di China yang saat ini sedang sungguh-sungguh mengalami penganiayaan yang bertambah berat, yang berusaha menekan dan menghancurkan iman mereka. Mereka mungkin tidak bisa lagi melarikan diri, namun Tuhan mohon tilik mereka dan kuatkan iman mereka satu persatu, di tengah kesulitan yang mungkin tidak bisa kami bayangkan, Tuhan. Biarlah Tuhan sungguh-sungguh menunjukkan kepada mereka bahwa Engkaulah tempat perlindungan dan gunung batu bagi mereka.

Terima kasih ya Tuhan, biarlah Tuhan boleh mendengar dan mengingat doa kami ini. Dalam nama Tuhan Yesus, saya sudah berdoa, amin.

The Lord is in his holy temple; the Lord’s throne is in heaven; his eyes see, his eyelids test the children of man. The Lord tests the righteous, but his soul hates the wicked and the one who loves violence.

Ya Tuhan, terima kasih bahwa Engkau sudah menebus kami, menang atas kematian dan sekarang boleh duduk di sebelah kanan Allah Bapa dalam segala kemuliaan-Mu.

Tuhan, kami yakin Engkau melihat apa yang saat ini terjadi, dan apa bila semua kondisi saat ini, malapetaka, marabahaya, tekanan, penganiayaan, sakit penyakit (pandemi) dan dukacita kami, adalah ujian daripada-Mu untuk memurnikan iman kami, mohon beri kami sukacita dan kekuatan untuk dapat melaluinya ya Tuhan, dan biarlah kami boleh keluar dari semua ini sebagai anak-anak yang lebih dekat pada-Mu, lebih mengasihi-Mu, dan lebih beriman keada-Mu ya Tuhan.

Ajarlah kami untuk boleh hidup sesuai kehendak-Mu di tengah situasi dan ujian saat ini. Kami yakin Engkau, Tuhan yang melihat dan yang berkuasa duduk di atas takhta di Surga, adalah Allah yang tidak akan tinggal diam, dan tidak akan membiarkan anak-anak-Mu jatuh menjadi orang yang jahat, fasik dan menyukai kekerasan.

Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus kami sudah bersyukur dan berdoa, amin.

Let him rain coals on the wicked; fire and sulfur and a scorching wind shall be the portion of their cup. For the Lord is righteous; he loves righteous deeds; the upright shall behold his face. 

Ya Tuhan, ajarlah kami untuk mengasihi sesama kami, dengan tidak membalaskan dendam, karena pembalasan dan penghukuman adalah hak-Mu. Kami yang sama berdosanya dengan mereka, tidak layak untuk menghakimi dan menghukum mereka.

Tapi Tuhan, mohon ampunilah saya, jika saya masih sering berbuat dosa, dan hidup melupakan Engkau, sehingga sebetulnya tidak ada perbedaan antara saya dengan orang fasik tersebut dari segi cara hidup. Tuhan, mohon Tuhan mengajar saya untuk selalu hidup benar agar hidup saya bisa menyukakan hati tuhan dan sesuai dengan kehendak-Mu. Terima kasih Tuhan, dalam nama Tuhan Yesus, saya sudah berdoa, amin.

***

Kamis, 10 September 2020

A Scribble and A Dream (64) - Missing You, Just A Little Bit


  MISSING YOU, JUST A LITTLE BIT


Here I am
Listening to these love songs
That suddenly makes sense
After all this time

And now,
I think I'm starting to see
What people meant when they say
"I'm in love."

It's so simple
It's not even that complicated

Thinking about you out of the blue
Talking about you with my close friends
And missing you, just a little bit
Amidst my busy day

That's what it is
That's all it is

Will it stay this way?
Will it be this subtle,
In the days to come?

I don't know.
I guess, time will tell.

***


Kamis, 03 September 2020

A Scribble and A Dream (63) - The Question, The Anxiety, and An Unseen Future

Path Through A Misty Forest During A Foggy Winter Day Stock Photo -  Download Image Now - iStock

The Question, The Anxiety, and An Unseen Future

 August 23, 2020.

 The day she finally decided to told everything to the person she counted as part of her inner circle.

How she felt 4 years ago.

All the painful roller coaster of an immature, unrequited feeling.

Her decision back then to distance herself from him, to avoid lashing out at him hurtfully.

There's only one thing she kept to herself. That this talk was intended to be her last decision to finally let everything go, since she saw no other possible development for anything romantic between them.

She was expecting a rejection, and a polite "Wait", or "No" for an answer. To be precise, maybe that's what she was hoping, deep inside her heart. An end to something that was never there to begin with.

His answer was not as expected. He told her that after a very long observation on a few of the girls he had known, and a long consideration, he decided that she was still the first in his list of "the person he could live his life with".

"I was about to told you this sooner or later. But since you already told me this, let me ask you now. Do you want to try going out with me?"

She was surprised. As she noticed her heart pounding a bit faster, she tried to stay collected and calm. Her voice resounded. Maybe a second chance wouldn't hurt.

"Okay, let's try."

***

September 3, 2020. Today.

"Any daily communication with him since then?"

A well-meaning question from her groom-to-be little brother just a while ago.

To which the answer is... NO.

Apart for 2 longer phone calls on August 24 and 26, and some short text messages on September 2, discussing their plans for a casual meet up. The rest are just normal days without any contacts whatsoever.

That is already significantly more frequent compared to their usual text messages, in which they can spend a few weeks without any single personal related chats.

But, in all 3 instances, she was the one initiating the contact. An eerie replay of what happened 4 years ago.

It's as if there's a final wall between them, one that is hard to tear down. One which she is unsure on how to deal with. One which, she fears, would bring further problems down the road if not addressed accordingly.

A lack of communication. A confusing direction, unclear signs from him.

And an anxious, wavering heart inside her.

She suddenly feels a small regret in her heart for saying "yes" too quickly instead of asking him to prove himself first.

It's as if she is back on that misty forest 3 years ago.

But now, instead of fighting the fog frantically and desperately - trying to reach the fairy-tale-like lights at the end of the road - she stands still at the forest entrance, bewildered of where to start walking, feeling unsure of the unseen future.

She gazes up to the imaginary sky above, asking in her heart, "God, will it work, or will it not work? Will I hurt myself once more? Is this the path where I'll still be the one to call it quits after giving him a second chance? How can I know if this is already in Your time, or if it's not?"

Her long-time suppressed, forgotten melancholy rushes amidst the soft jazzy cafe soundtrack echoing in her bedroom.

She exhales deeply to control her tears, and resumes her work-from-home overtime.

It's something to be saved for the Sunday conversation with him, on the day when they will finally meet up for dinner.

Maybe she'll find hints of the answers then.

***

Sabtu, 11 Juli 2020

A Scribble and A Dream (62) - A Lesson for the Mind, A Training for the Heart

Two violins put on grunge surface background | Premium Photo

I've said it.
I've finally said it out loud on my own.
To other people, and not just keeping it myself.

My composition was not chosen out of the 2000 compositions submitted to Twoset Violin.
Although I immediately felt a pang of disappointment in my heart, I braced myself, and pushed myself to listen to all of the chosen compositions.

And I have to say, they are all really good, really interesting, really outstanding and content worthy.
This is not a sarcasm, but a sincere and fair judgement.
All of the pieces chosen are those that really, really shine.

It does not mean that my piece is bad.
I know my piece is still pretty good, or decent at least.
I wrote this blog even as I'm trying my best to hold my tears and not cry over something like this.

It's just that, TwoSet need to choose the most outstanding ones.
Out of 2000 submissions.
Even piano competitions don't have that many participants to decide from.
That's no easy feat, and they did a great job at that.

I think I learned as well from the creativity of those whose compositions are chosen.
One took inspiration from the local wedding in his community.
One took inspiration from the memes loved by the TwoSet Violin fans.
One took inspiration from Bach.
One took inspiration from Mozart's mirror piece.

And when I look at my piece in retrospect,
I realized how much that I still need to learn.

Maybe the best way to move forward is really by consistently striving and learning, whilst not imposing too many expectations on myself.

And then I am reminded of Shuhei Amamiya's conclusion on the aftermath of his dealing with the bitterness of losing the competition and with his own insecurity in Piano no Mori, "The journey is the same. We just have different starting points."

Well, at the end of it all.
This has been a great lesson for the mind, and a superb training for the heart.

And I don't regret this.
I think, I'll write a piano accompaniment to complete that piece I submitted in the near future.

Afterall, I'm a pianist. :-)

***

Rabu, 01 Juli 2020

A Scribble and A Dream (61) - Dangkal (Shallow)


Thinking, Shallow And Deep - Personal Growth - Medium
DANGKAL

Manusia dangkal.
Apa itu artinya?

Tak seorangpun mau disebut dangkal.
Tapi kenapa marah?
Kenapa sedih?

Aku memandang sekeliling.
Mereka yang memutuskan untuk vokal.
Suarakan panggilan demi keadilan.
Gemakan seruan ambil tindakan.

Menyebut kebodohan sebagai kebodohan.
Menjadi usikan di tengah khalayak sosial.
Tanpa rasa takut, penuh api membara.
Seperti kau dan sahabat-sahabatmu.

Aku kagum.
Dan aku memandang wajahku di cermin itu.
Manusia yang tak melakukan apa-apa.

Aku yang cuma sibuk urus diri sendiri.
Aku yang cuma berlari dari satu tugas ke tugas lain.
Hari demi hari, hari demi hari.
Cuma tenggelam ditelan arus waktu.

Aku yang jarang bertanya ke yang lain,
"Apa kabarmu?"
"Apa kau baik-baik saja?"
Ah, tak sanggup aku bertanya terus demi basa basi.

Aku yang menolak baca berita,
Dan memilih jadi seperti pertapa di dalam goa.
Karena tak kuasa pahami kisah dunia.
Siapa yang benar-benar benar, dan siapa yang benar-benar salah.

Mungkin...
Inilah dangkal.
Akulah contohnya.
Si manusia dangkal.

Si Wendy yang menolak bertumbuh.
Dan terus mencari dunia Peter Pan.

Akankah kau panggil ku dangkal?
Jika iya pun, tampaknya aku tak peduli lagi.
Karena sesakit apapun rasanya.
Itu fakta, dan aku tak menyangkalinya.

Mungkin aku cuma akan pergi.
Karena itu lebih mudah.
Karena aku tak mau kau berteman
dengan manusia dangkal.

Itu buruk bagimu.

Jadi, kupikir...
Aku pamit dulu.
Merci beaucoup, mon ami.

***

Rabu, 24 Juni 2020

A Scribble and A Dream (60) - Comfortable Distance

Don't leave me:( | Heart broken photography, Dancing in the rain ... 
COMFORTABLE DISTANCE

"Darling, love", I heard some said
"Love with compassion"

Reach out and show it up
Connect and close that gap

Love, and pour out your heart
For love is so strong
Stirring up the soul

But here I am
Trembling
Afraid of the fire
That burns and hurts

No more, no more
Don't wanna see the tears
Falling silently in solitude
Again

So I've stopped hoping
Stopped expecting
And learned to be content

I'm keeping
This comfortable distance
With you

Amidst a thousand of unsaid
"How are you?"
And a myriad of
Untold wishes and desires

To see you
To hear your voice
To just be there with you

Ain't it weird?
Ain't it awkward?

But I'm content
Standing here, watching you from afar

So I'm keeping
This comfortable distance with you
Telling you tales you would never hear
Under the dark starry sky

***

Selasa, 09 Juni 2020

A Scribble and A Dream (59) - Hujan di Siang Hari

The Afternoon Rain II by IsacGoulart on DeviantArt
HUJAN DI SIANG HARI

Aku tak suka.
Tak suka hujan di siang hari.

Kala rintik-rintik menembus terik.
Dan cuaca pun segalau manusia.
Mau panas, mau dingin, sesukanya.
Tak jelas tingkah dan maunya.

Seperti kamu, mereka, dan aku.
Yang hati akalnya sering kena diobrak abrik.

Sudahlah, kita menunggu.
Kalau pelangi masih mau mampir lagi.
Membelah langit hangat abu-abu
Sehabis hujan di siang hari.

Sumber gambar:
https://www.deviantart.com/isacgoulart/art/The-Afternoon-Rain-II-308516789

***

Jumat, 05 Juni 2020

A Scribble and A Dream (58) - Missing Someone, Kinda Badly

I Miss You" Quotes By LoveWishesQuotes
~ MISSING SOMEONE, KINDA BADLY ~
 
Hi, how are you doing? Are you missing someone?
You do, right? Kinda badly, everytime you think of her, your chest tighten.
And you felt like you hit a wall. Don't know what to say, or to ask.
You find yourself missing talking to her as like in the past.
Imagining how maybe only seeing her could make your heart leap in happiness like crazy.

Are you obsessed with her? Maybe no, since it shouldn't be like that.
It's just that, you missed her, as one of those friend with whom you can talk to and sing to until late at night.

And, you're not sure how she'll react if you told her, "I miss you" since it sounds so sentimental. And, well, sentimental doesn't sound right. But she has her sentimental side though, and a deep, deep one at that.
You've seen it in some rare circumstances up to a few months ago.

Well, you're pretty much afraid if she's going to, unintentionally, seem as if she rejects you. Unintentionally, since most of the time, that's not the case.

It's just that, both of you are such heavy introverts at this time, it's funny.
And vexing at the same time.

She could be busy, or is dealing with pain due to her autoimmunity, or is in other ordeal.
 Your mind keeps telling you not to get anxious, and it goes in circle, over and over.

"What am I, to her? Just some acquaintance? Or, a not-so-close friend?"
"Hey girl, does that even matter? So what if you're just an acquaintance or not-so-close friend to her? Both of you have your own inner circles, don't you?"
"Beware of getting attached again to somebody. Being clingy is not good! Don't fall into the same trap hoping the same thing like you did in the past with that guy!"
"You know what, hoping wouldn't get you anywhere. If anything, it would only disappoint you."

You feel your mind getting crazier and crazier the more you write. And you hate yourself being like this.
 
Since you only want one thing. Perhaps, more than anything, even more than a lover.

You only want a close friend. Someone you can proudly call "inner circle" since you know it is reciprocal.
 
A not-one-sided connection is all you ever wanted.

And denying yourself that kind of assurance, is weighing heavily in your mind and heart.
Since you know, most likely, that's not how the other person operates.

So, how should you approach this? Should you contact her and blatantly tell her, "I miss you."?

*** 

Kamis, 04 Juni 2020

A Scribble and A Dream (57) - Mabuk dalam Biru

40 Download: Forest Path HD Wallpaper 1409 :: Forest Path Hd ...
MABUK DALAM BIRU

Tatapan kosong.
Nanar, tiada sinar cahaya.
Cuma redup sendu sayu saja.
Diselubung lembut sapa bulan biru.

Langkah terseret, berhenti.
Di hadapannya, dunia lapis lazuli.
Dalam dirinya.
Dalam semesta kalbunya.

"Kau, yang terus berlari, berlari ...
Dalam hiruk pikuk dunia.
Apa kau cari?
Tempatmu berpulang?
Penerimaan anak manusia?"

"Berjalan, berjalan saja.
Belum puaskah lamunan konyolmu?
Tak perlulah berharap
Pada yang tak seharusnya kau harapkan."

"Karena penerimaan bukan upah sejati.
Itu bayaran fana dan semu.
Bukankah, kau harusnya cukup punya dirimu?
Tegak tegar di atas batu karang keteguhan misimu?"

Dan jejaknya berlanjut menjauh.
Sempoyongan di tengah senandung.
Malam ini, sedikit lagi, sebentar lagi saja.
Ditenggaknya melankoli haru biru yang memabukkan itu.



***

Senin, 18 Mei 2020

A Scribble and A Dream (56) - A Thousand Piece Puzzle

 
1000-PIECE PUZZLE

What will you do with a 1000-piece puzzle?
One by one, little by little.
A scenery forms, ever so, so slowly.
You wondered what beauty it is going to show you.

Mistakes happen, and your pick is not always the perfect fit.
More oft than not, you'll be frustrated.

"Show yourself already!
Why are you so hard to understand?
You’re too much of a challenge!
How do I ought to solve you?"

Listen, listen quietly.
Listen to its soft whisper.

'The clues are there. Look...
You just have to see, but do it closely.'


'Unfold my beautiful, colorful, blooming spring flowers.
Trace my sturdy wood bridge with your fingers,
Crossing over the ever-so-calm, deep, and clear river.'

'Dance your mind with mine along these lush, green trees
All I ask is for you to spend time with me,
And to not give up.'

'Only then will you discover me.
In all my fullness.
The whole complete picture.'

'This is me, it is who I am.
The pretty, yet silent, 1000-piece puzzle.'


***

Inspired by the following article:
https://thepowerofsilence.co/inside-the-complex-mind-of-the-girl-with-a-good-heart/

Picture taken from a screenshot of the following video:
1,000 Puzzle Pieces - Stop Motion [hd]
By: Thomas McCaul
https://www.youtube.com/watch?v=nzsCzWaX6io

Jumat, 08 Mei 2020

The Walk to Remember (6) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

Doctor's Desk And Equipment Photograph by Lewis Houghton/science ...
CHAPTER 6

Dari tengah lubang hitam yang menyedotnya, muncul tangan dingin yang mencengkeram lengannya kuat-kuat. "Bangun, Nevaeh."

Suara yang tak asing di telinga itu seakan membetotnya dari dunia kegelapan, dan menariknya keluar seketika itu juga. Perlahan ia mengerjapkan matanya.

Kelopak matanya terasa berat. Badannya kaku dan kakinya kesemutan. "Kamu bisa mendengar suara saya dengan jelas?" Ia mengangguk pelan. Sebelum sempat berkata apa-apa, pria separuh baya itu bertanya, "Apakah kamu ingat siapa namamu?"

"Ya," jawabnya parau, "Nevaeh Johnson".

"Bagus. Kamu tahu siapa saya?" tanyanya, sambil menuliskan sejumlah catatan dalam bukunya.

"Ya, Dokter Thornton." Nevaeh mengusap dahinya, seakan berusaha menghapus kabut yang memenuhi kepalanya.

Dokter Thornton tersenyum singkat, nyaris datar. Ia mengambilkan segelas air putih yang telah disiapkannya di atas meja, dan Nevaeh menerimanya dengan terima kasih.

"Apakah kamu ingat bagaimana kamu bisa sampai kemari, Nevaeh?"

Nevaeh menggelengkan kepalanya. "Kamu sudah kembali ke waktu sekarang. Hari ini tanggal 27 Januari 2022."

Nevaeh merasa sungguh lega, akhirnya mimpi buruk yang melandanya berakhir. Ya, setidaknya untuk saat ini.

Sudah kesekian kalinya hal ini terjadi, tapi baru kali inilah yang terparah di antara episode kumat sebelumnya.

"Kamu ditemukan pingsan di pinggir jalan pagi ini. Karena kamu menempatkan kartu nama saya di dompetmu sebagai kontak darurat, mereka segera mengantarkanmu kemari. Apa yang kamu rasakan saat ini? Apakah kamu ingin berbicara tentang kejadian yang baru saja kamu alami?"

(EO)

The Walk to Remember (5) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

Starbucks: We are closing all of our Central Jakarta outlets ...
CHAPTER 5

Dia buru-buru meloncat ke trotoar, lalu menundukkan kepalanya, meminta maaf kepada siapa entah. Mungkin meminta maaf kepada seluruh pelintas jalan yang tadi terganggu dengan apapun yang terjadi pada saat dia terdiam di jalan.

Apa itu barusan, mimpi di siang bolong, pikirnya. Ia melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk gedung kantornya.

Tiba-tiba ia terbelalak. Gedung itu gelap. Tutup. Kosong. Seolah tidak pernah ada kehidupan di sana.

Sontak ia kembali melihat sekitar.
Jalan raya. Dengan segala kebisingannya. Langit abu-abu kota.

Tapi kenapa?

Seorang pria lewat sambil membaca koran. Detaknya terhenti saat melihat edisi koran tersebut.

“Permisi pak, sekarang tanggal berapa ya?” ujarnya ragu.

Ia cuma menunjuk ke papan penanda jalan dan jam di perempatan jalan.

14 Januari 2016.

Belum sempat ia mencerna jawaban itu, tiba-tiba terdengar ledakan membahana.

Lagi-lagi! Ada apa sih hari ini?

Mendadak orang-orang berlarian panik, diiringi rentetan suara peluru.

Hari itu, di Osinga… Ah!

Alih-alih melarikan diri, ia malah masuk ke dalam sebuah cafe di sebelah lokasi ledakan tersebut. Langkahnya buru-buru, matanya berkelana lekas-lekas.

Di mana dia? Di mana? Di mana???

Tatapnya terhenti di meja dengan sepasang pria dan wanita muda yang sedang bercengkrama. Mereka yang selalu ia rindukan sampai saat ini.

“Lari! Ohana! LARIII!!!”

Suaranya tenggelam di balik suara ledakan kedua, dan kali ini dengan sensasi sayatan besi panas di punggungnya. Sang pria dan wanita muda tergeletak diam di lantai.

Sang pemudi menjerit sejadi-jadinya, sebelum api merah menyala dari ledakan menyergap pandangannya.

Lantai kembali terbuka dan membawanya jatuh dalam kegelapan yang seolah tak berdasar.

“Kau harus rela melepas.” Suara Dokter Thornton bergema.

(SL)

The Walk to Remember (4) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

The Maze Runner' Unveils First Look at Creepy Labyrinth - YouTube
CHAPTER 4

Tutup mata, ujarnya. Ingat, temukan pusatnya. Semua labirin pasti mempunyai titik tengah. Temukan itu, dan kamu akan menemukan jalan keluarnya.

Wajah orang-orang di sekelilingnya meleleh seperti lilin. Lantai ubin di bawahnya retak, dan kasurny ambruk.

Sebelum ia mampu membentuk kata di bibirnya, bumi sudah mengagakan mulutnya dan menelannya.

Di satu menit ia ada, di menit berikutnya dia hilang. Masuk dalam lompatan waktu, keluar di satu kehidupan, melompat lagi, dan masuk ke kehidupan lain.

Ia berusaha menemukan jalan keluar.

Di mana pintu masuk labirin itu? Di mana aku saat ini? Di mana titik tengahnya?

Semakin dekat ke titik tengah, semakin kuat guncangannya. Terus jalan, kau akan segera sampai.

Di loncatan selanjutnya ia sampai ke sebuah tanah pemakaman. Ia terperangkap dalam tubuh seorang pria tua yang tengah meratap di depan nisan. Tangannya yang keriput memeluk batu nisan itu.

Ia tahu ia sudah semakin dekat ke titik tengah ketika seluruh tanah pemakaman berguncang, dan tulang belulang dari balik kubur mulai berserakkan keluar.

Segenap pohon tumbang dari ujung ke ujung, dan ia mulai berlari dengan kencang.

Ini dia, di sini jalan keluarnya.

Loncatan berikutnya menelannya dalam kegelapan yang begitu dalam. Singkat dan sangat menyakitkan.

Warna merah kembali menghajarnya bersamaan dengan bunyi yang memekakkan telinga.

Bunyi klakson mobil dan suara pengemudi yang mengomelinya dengan sumpah-serapah. "Apa yang salah denganmu? Menyingkirlah dari jalan kalau kau masih sayang nyawamu!" Lampu pejalan kaki sudah kembali merah.

(EO)

The Walk to Remember (3) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

Hospital Ceiling Pov Stock Footage Video (100% Royalty-free ... 
CHAPTER 3

Ia terbangun mendadak.
Semerbak aroma rumah sakit menyergapnya, diiringi silau lampu yang terpantul oleh tembok-tembok putih.

Kepalanya sakit rasanya.

Seorang dokter buru-buru menghampiri dan memeriksa kondisinya.

“Apa yang kau rasakan sekarang, nona Johnson?”

Ia mengernyitkan dahinya. Ia tak mengenali nama itu. Itukah namanya?

Perlahan-lahan masing-masing wajah orang yang hadir di ruangan tersebut berubah.

Seorang wanita paruh baya mendadak menangis histeris. Seorang pemuda mengguncang-guncang tubuhnya dengan wajah panik, menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.

Hentikan! Hentikan!

Siapa kalian semua? Siapa aku?

(SL)

The Walk to Remember (2) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

What Causes Blurred Vision and How To Deal With It - GUNNAR 
CHAPTER 2

Persis di penghujung jalan, mendadak semua berubah menjadi merah. Oh, tidak! Kegilaan apa lagi ini, pikirnya. Hanya selangkah lagi menuju trotoar.

Merah, kental seperti darah. Warna merah tebal sepanjang mata memandang. Seperti dinding yg tak jelas titik mula dan titik akhirnya.

Begitu pekat, nyaris bisa disentuhnya dengan ujung jari layaknya benda padat.

Baru saja ia mengira bisa melalui satu hari saja dengan normal. Tanpa insiden apapun.

Langkahnya terhenti dan sejenak pikirannya melayang pada pertemuannya dengan Dokter Thornton minggu lalu.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

(EO)

The Walk to Remember (1) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

Feet of School Girl Walking Stock Footage Video (100% Royalty-free ... 
CHAPTER 1

Sebuah lampu lalu lintas.
Sebuah perempatan yang sibuk.
Mobil-mobil sibuk lalu lalang, sambil menyanyikan klakson mereka.

Sang pemudi memalingkan wajahnya dan menatap ke seberang jalan.
Berapa kali ia sudah melakukannya?
Ah sudahlah, tak perlu dihitung. Buang-buang waktu saja.

Lampu pejalan kaki perlahan berubah menjadi hijau.
Kakinya mulai melangkah konstan menuju gedung kantor tua berwarna coklat itu.
Sekejap ia menatap langit.

Baginya, hidup sudah selalu seperti ini.
Ah, seandainya ada sesuatu yang baru, yang mendebarkan!
Sesuatu yang, mungkin, akan menggugahnya dengan gairah dan semangat yang membara.
Sesuatu yang ia bersedia lakukan dengan hati gembira.

Ia menghirup udara berpolusi sekali lagi, sambil menghela napas.
Langkahnya segera bertambah cepat, sebelum lampu pejalan kaki berubah merah.

(SL) 

Sabtu, 25 April 2020

A Scribble and A Dream (55) - Negeri Fantasi (Land of Songs)

Negeri Fantasi
(Land of Songs)

Di balik langit-langit tembok biru
Terbentang negeri yang tak seorang pun tahu
Di mana awan berarak malu-malu
Dan alam menari dalam musik semesta

Melodi mengalun, penuhi angkasa
Diseling rintik hujan membawa haru
Tabuh guruh gemuruh membelah cakrawala
Hingga pelangi datang menari ceria

O, bawa ku ke sana
Ikut pesta negeri fantasi
Ku ingin bernyanyi, bersukaBersama paduan suara semesta

Dari balik langit-langit tembok biru
Ku terbaring dalam bisu
Di tengah rindu dan pilu

Beyond the blue, blue ceiling
Twas a land that none has ever seen
Where the clouds thread so slowly, shyly
And nature waltzed in the music of the skies

Melodies float, filling the heavens
The raindrops sounds so bittersweet
The clash of the thunders roars loud and great
Till the rainbow comes, bringing bright joy to all

O, bring me there
Celebrating in the land of songs
That I may sing aloud and rejoice
With the grandest choirs

Beneath the blue, blue ceiling
I lay down, alone, and silently
With a heart, so longing, so blue

***

Minggu, 05 April 2020

A Scribble and A Dream (54) - Sang Peniup Seruling

Image may contain: sky, tree, outdoor, water and nature

Sang Peniup Seruling

"Mainkan, mainkan serulingmu!
Mainkanlah bagi kami!
Kami dalam bosan dan sepi.
Lagumu untuk kami, itu peranmu."

"Tapi penduduk kota, sendiri aku.
Bernyanyi dalam sunyi malam.
Tanpa bersahut, satu pun tiada.
Dan panggilku cuma dibalas diam."

Di balik tenggelam mentari.
Siluet kecil bergerak pelan.
Menarikan lincah jari jemari.
Dalam melodi lirih pengusik sanubari.

(5 April 2020)

***

Rabu, 01 April 2020

A Scribble and A Dream (53) - Kotak Musik Renta

The Secret of the Old Music Box [Music] - YouTube
Kotak Musik Renta

Di pojok lorong merah bata
Kling... kling... kling...
Mengalun merdu yang sendu
Kling... kling... kling...

Aku kotak musik renta
Fisikku kayu tua
Laguku juga satu saja
Kling... kling... kling...

Kau! Iya, kau itu!
Yang sedang gundah gulana
Di bawah awan langit abu-abu
Mari, duduklah sekejap saja.

Dengar... dengar...

Impianku membawa suka
Dan senyum mungil di tengah duka
Ya, amat sederhana aku
 Apa dentingku tembusi hati kecilmu?

Kling... kling... kling...

Di sudut pojokan lorong merah bata
Sebuah kotak musik kayu tua
Nyanyikan denting-denting nada
Hingga tiba waktu kesudahannya

Krek.

(1 April 2020) 

Rabu, 04 Maret 2020

A Scribble and A Dream (52) - Hadiah

Image result for creation of eve 
*) Info gambar: The Creation of Eve, oleh Maerten de Vos (1532-1603)

HADIAH

Sang pemuda berjalan dalam taman

Satu per satu jejaknya

Menapak di tanah embun basah

Di tengah sebuah pencarian


Dilayangkan pandangnya
Tak ada, satupun tiada
"Di mana dia, padanku?"
Halus bisiknya dalam kuat rindu

Sang pemuda duduk termenung
Dibelai lembut Khalik semesta
Lelap diantar senandung kidung
Dalam rancangan kisah indah

Lihat!
Ah, cantik karya-Nya!
Siapa namanya?
Senyum Pejunan cerah merekah

Pemuda!
Bangunlah!
Lekas, lekas!

Simfoni semesta riuh berdentang
Dalam semarak cerlang surya
Sang Ayahanda mengantar putriNya
Kepada sang mempelai pria

Tarikanlah tarian gembira!
Nyanyikan sorak sorai gempita!
Karena pencarian usai sudah

Tatkala menyatu dua jiwa
Dibalut pelukan cinta sang Pencipta


(Ditulis untuk Lomba Nulis Puisi Nasional, 
terinspirasi dari khotbah Pdt. Billy Kristanto 
dalam pernikahan Markus dan Tressi tanggal 29 Februari 2020)

  
***
Powered By Blogger