
MEMANDANG MIMPI
Empat sisi dinding putih,
Diam berdiri
Memandang jari-jemari yang masih menari
di atas tombol angka dan QWERTY
Bersama sebuah hati
Yang sudah lama
Tak berani hadapi
Impian yang tersimpan rapi
Di sudut laci kecil terkunci
Wahai para penyair isi nurani
Kalian para penenun nada
Pendekar nyanyian sanubari
Bangkitkanlah rasa kami
Getarkan jiwa ini
Untuk sekali lagi
Berani memandang mimpi
Dalam temaram lampu jalan raya
Dan di bawah bintang jam 3 pagi
Sebuah tanya yang dipendam gundah gulana
Ditutup di antara ragu
"Maukah begini akhirnya?"
It's all or nothing
To do or not to do
"Jadi, apa jawabmu?"
Wahai para penyair isi nurani
Kalian para penenun nada
Pendekar nyanyian sanubari
Bangkitkanlah rasa kami
Getarkan jiwa ini
Untuk sekali lagi
Berani memandang mimpi
Berani mencoba
Sekali lagi saja, sekali lagi
Walau masa depan tak pernah pasti
***
Ditulis sebagai bentuk kerinduan setelah mendengar keindahan lirik dan musik dari Isyana, Rendy Pandugo, dan BTS yang begitu jujur, indah, dalam dan bermutu.
Terutama Isyana dan BTS, yang berani mendobrak keluar dari batasan lagu-lagu yang disebut "populer", menghadapi musik dan bicara dengan ketakutan dan pergumulan mereka melalui musik, tanpa takut ditinggalkan pendengar.
Akankah aku bisa menulis lagu sejujur mereka dan hidup untuk menyanyikannya?
2 April 2021
