Dear Lord...
When things doesn't seem to go our way
When our plans seems to be washed away
When all that our hearts sees are failures and bad days
Please help us, Lord...
To remember that You are in control
To remember that You are the Ultimate Master Planner
To see that, without You, messy days will be even messier
Dear Lord,
When our daily tasks seems to pressure us
When our priorities seems to compete for the number one spot
When our body complains and told us that "we want to slack off, we deserve some fun!"
Please help us, Lord,
To stop for a while, take a step back and breath
To remember, that above all, only You deserve that number one spot
To remember, that sad and angry heart will make us even more depressed
May we be reminded daily, o Lord...
Of the things that led us to where we are today
Of the invisible little blessings, that You brought to us, one by one
Of the chances and encounters that led us to our past decisions
Of the people that will be blessed after the tasks are finished
So that, amidst all the hardships and anxiety for the unknown future, we can all still be joyful
But above all, dear Lord, in everything we do, please help us to remember You.
For we can not remember You using our own strength.
The world has tried so hard to take us apart from You.
Our time, our strength, our happiness, every single little thing.
Please help us to cling unto You, and nothing else.
And now, that we have to go back to our lives,
Out of the garden where we walk and talk with You,
Please give us Your countenance, so that we will not bring shame towards Your name.
May Your glory be forever and ever.
Amen.
Selasa, 24 November 2015
Rabu, 15 Juli 2015
My Little Story 2
April 23, 2015 at 4:08pm
“Ya, boleh tolong dibuat listingnya? Kita perlu listing itu
untuk mengontrol supaya tidak ada dokumen satu pun yang terlewat… Ya, ya, nanti
coba saya tanyakan ke Pusat yah? Thank you…”
Telepon ditutup. Sang pemudi berpikir sejenak. Jari
jemarinya meraih mouse yang tergeletak di mejanya.
Klik… Klik…Kursor kecil itu mengembara di layar laptopnya.
Email dari Ibu M terkait review regulator.
Ada jadwal pelatihan dari Ikatan Akuntan Indonesia.
Diraihnya handphonenya.
BBM koordinasi meeting persiapan review dari regulator.
Percakapan dengan teman kuliah S2 mengenai tugas paper
kelompok.
Kembali matanya mengarah kepada layar laptop. Klik… Klik…
Sampai tiba-tiba matanya mengarah ke sudut kanan bawah.
Sebuah FB notes yang dulu ia pernah buat,“My Little Story”.
“Bahkan akupun lupa apa isinya…”
Penasaran, kursornya memilih “Open in New Tab”.
***
June 11, 2010 at 9.51 pm
Aku tersadar dari pengembaraanku. Kutatap laptop yang
menyaladi hadapanku. Tanganku kembali menari di atas keyboard. Mungkin aku
belum akan mendapatkan jawaban atas semua ini, jadi saat ini, biarlah kulakukan
apa yang bisa kulakukan untuk mencapai tujuan pertama: lulus kuliah, menjadi
S.E. dengan nilai sebaik mungkin. Lalu mungkin bekerja dulu satu dua tahun,
sambil terus mencari dan berharap aku menemukan apa yang sesungguhnya menjadi
hasrat hidupku. Yah, jalur yang normal memang, tapi mau bagaimana lagi?
***
Sang pemudi tersenyum kecil. Satu dua tahun?
Ditatapnya kalender di meja kerjanya. 23 April 2015. Sudah
hampir 5 tahun lewat semenjak kerinduan itu menyergap batinnya. Sebuah
kerinduan yang, kadang-kadang terlupakan, terpendam di dalam kesibukannya sebagai
seorang karyawati.
5 tahun sudah berlalu, dan apa yang sudah ia lakukan?
1 tahun sebagai staf accounting, 6 bulan sebagai eksternal
auditor, 2 tahun sebagai internal auditor, dan saat ini, sudah memasuki bulan
ke-9 posisinya sebagai Quality Control. Dari sudut pandang orang normal, alur
karirnya bisa dibilang agak tidak wajar.
Dalam 5 tahun, berpindah kerja 4 kali? Semua lain posisi?
Ditambah lagi, sekarang bebannya bertambah dengan kuliah S2
malam. Suatu hal yang mungkin seharusnya sudah bisa diselesaikan seandainya 4
tahun yang lalu, ia tetap mengambil jalur Dual Degree di almameternya, dan
tidak berhenti hanya di Program PPAK. Bahkan S2-nya sekarang ini agak aneh,
Magister Manajemen. Notabene nyaris tidak ada hubungan dengan pekerjaannya
sekarang di Kantor Akuntan Publik, yang pada naturnya accounting banget.
Nyaris tanpa tujuan? Ya, mungkin. Ada kesan seperti itu, dan
ia tidak akan bisa menampik. CV adalah CV, suatu fakta yang tidak bisa diubah.
Terus mencari dan berharap aku menemukan apa yang
sesungguhnya menjadi hasrat hidup?
Entah berapakali ia mendapati dirinya mencari mengenai
sekolah musik di internet, mulai dari sekolah musik klasik sampai sekolah musik
etnis. Terombang-ambing di antara keinginan belajar musik lagi, dengan
rasionalitas pikirannya bahwa waktunya sekarang sudah habis untuk hal lain yang
“lebih penting”. Bahwa musik tidak akan bisa menjadi mata pencaharian yang baik
baginya, apalagi dengan kondisinya saat ini yang sudah memiliki gaji yang cukup
mapan. Bahwa waktu yang ia berikan untuk S2 dan karir tidak cukup berharga
untuk dibagi juga kepada keinginannya bermain musik, yang selalu timbul,
tenggelam, timbul, tenggelam...
Orang bodoh mana yang akan meninggalkan kemapanan gaji untuk
hal yang tidak pasti? Tunggu, mungkin ada beberapa yang akan rela, tapi yang
pasti, dia tidak termasuk salah satunya. Tidak akan mungkin, dengan orang tua
yang selalu menekankan rasionalitas dan logika dalam setiap pengambilan
keputusan. Meninggalkan kemapanan gaji demi hasrat yang belum teruji, adalah
suatu tindakan emosional yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan akan
membuat orang tua manapun khawatir.
“Setidaknya sampai aku punya cukup tabungan…” demikian
pikirnya sekarang.
Namun, entah berapa kali, lagi-lagi alunan melodi bernyanyi
di dalam batinnya. Setiap kali, melodi itu akan selalu berganti. Dan entah
berapa kali, melodi itu hilang, sirna ditelan waktu, dan tidak akan pernah
dilahirkan kembali. Hanya beberapa yang bertahan hidup, di dalam sebuah buku
catatan yang hanya ia sendiri yang tahu di mana tempatnya. Bahkan buku catatan
itu bisa saja terlupakan, dan berakhirlah kehidupan para melodi tersebut.
Saat ia kagum, lalu jatuh cinta lagi setelah sekian lama,
dan ia tahu persis bahwa cintanya akan selamanya menjadi cinta tak berbalas.
Saat ia mengetahui bahwa orang yang ia kagumi tersebut akan pindah departemen,
dan tidak akan ada lagi di sana untuk membimbing, meledek dan menertawakannya.
Saat ia, dengan berat hari, memutuskan untuk melangkah kembali ke tempat kerja
baru, meninggalkan juniornya, berusaha menerima bahwa jalan sudah hampir pasti
tertutup baginya di kantor lamanya, seberapa pun ia mengharapkan kemunculan
jalan tersebut.
Semua melodi itu tersimpan bagi dirinya. Dirinya seorang.
Tak seorang pun akan tahu, dan akan ingat (kecuali adik perempuannya, mungkin).
Bisa jadi saat ia pergi nanti untuk selamanya, entah kapan, melodi itu akan
selamanya tersimpan rapi, tanpa akan ada yang pernah menyanyikannya lagi.
“Sejak kapan aku menjadi seperti ini? Di mana diriku yang
dulu? Yang sudah jatuh cinta dengan musik itu? Apakah aku harus menyerah? Atau
tepatnya, apakah aku sudah menyerah?”
***
Betapa dirinya begitu bersemangat saat tahu akan ada acara
musik di gerejanya, dan ia menjadi salah satu pengagasnya. Begitu mendebarkan
dan menggairahkan, betapa ia menantikan saat-saat berkumpul dan berlatih
bersama rekan-rekannya. Namun, sepertinya hanya dia sendiri yang bersemangat.
Kadang-kadang,ia takut semangatnya itu sudah mengganggu yang lain, yang
sama-sama berstatus orang gawe. Ya, sering kali ia frustasi, karena
antusiasmenya ia rasakan seorang diri, dan setiap kekesalan disimpannya seorang
diri.
Dan setelah semuanya itu selesai, ia tahu, ia akan sekali
lagi kembali kepada realita. Realita bahwa musik tidak akan pernah menjadi
bagian utama dalam hidupnya. Bahwa musik akan menjadi salah satu perjuangan
yang sulit baginya, dan kini sudah mulai malas ia kejar. Bahwa musik akan
menjadi mimpi yang entah kapan, baru akan tercapai. Atau mungkin menghilang
tersapu arus waktu?
Bahwa musik, selamanya baginya, tidak akan membuat orang
lain menyadari keberadaan dirinya. Bagaimanapun, ia hanya musisi amatir, musisi
yang bahkan jauh di bawah rata-rata, musisi nanggung. Bahwa sampai saat ini, ia
dengan desperate berusaha untuk bertahan, dan entah akan sanggup bertahan
sampai kapan, sebelum akhirnya menyerah.
“Nanti,setelah 1-2 tahun bekerja…”
“Nanti,setelah saya ada pengalaman dulu…”
“Nanti,setelah gaji saya mapan…”
“Nanti,setelah saya selesai S2…”
Nanti… Nanti…Nanti…
Sampai suatu saat, ia akan lelah menanti. Dan berhenti
berharap, berhenti berusaha. Dan pasrah kepada jalan hidupnya, memilih untuk go
with the flow.
***
Jam 4 sore. Masih jam kantor.
Sudah cukup lama pikirannya melanglang buana.
Atasannya sudah mampir untuk diskusi, dan sudah pergi lagi.
Dokumen dan selusin ordner masih memenuhi meja kerjanya, dan
file untuk bahan meeting nanti sore sudah menanti untuk dibaca.
“Ah sudahlah… Korupsi waktu saja… Mari kita kembali
bekerja…”
Ditutupnya layar dokumen kecil berisi sekelumit kisah
hidupnya itu.
“Haduh, kok checklistnya masih belum lengkap juga sih? Sudah
berapa kali dibilangin ini.....”
***
***
My Little Story
June 11, 2010 at 9:51pm
Dengan lembut kugesek senar cello itu. Suaranya mengalun
indah, mengelus jiwaku. Aku tersenyum.
Kupandang sekelilingku. Teman-teman musisiku. Perpaduan
suara yang manis, harmoni yang mengugah hati. Aku memejamkan mata, menikmati
kebahagiaan ini.
***
Aku terbangun. Kulirik HP. Jam 8 pagi.
Aku mendesah panjang. Mimpi yang sangat indah dan manis. Sayang
aku tidak bisa bermain cello. Tepatnya, suka dan ingin bisa tapi tidak ada
kesempatan belajar. Aku memang pernah belajar piano klasik, tapi, yah, aku tipe
murid yang biasa-biasa saja. Tidak menonjol, juga tidak jelek.
Kakiku melangkah menuju ke kamar mandi. Hari ini Senin, dan
aku harus ke kampus untuk menyelesaikan skripsi dan asistensi lab seperti
biasa. Aku bersiap-siap, menyambar sarapanku, pamit kepada kedua orangtuaku
lalu berangkat.
Sesampainya di kampus, aku melangkah menuju ke kelas tempat
aku mengajar. Partner mengajarku sedang mengambil peralatan yang kami perlukan.
Mata kuliah ini salah satu mata kuliah kesukaanku, uditing. Sambil menunggu,
pikiranku melayang.
Sebuah melodi mulai mengalun dalam pikiranku. Salah satu
dari sedikit lagu ciptaanku yang pasti kelak akan kulupakan, dan ini melodi
favoritku. Setiap kali melodi itu mengalun, betapa aku merasakan kerinduan
memelukku erat. Entah kerinduan kepada apa.
Kelas asistensi lab dimulai. Kusimpan baik-baik melodi itu
dalam hatiku, berharap dia masih di sana saat aku selesai mengajar, lalu
kembali ke dalam realita dunia. Di sini aku, seorang mahasiswi Akuntansi
tingkat akhir, mengajar untuk adik-adik tingkatku.
Aku berjalan ke belakang kelas untuk mengontrol. Lalu
kudengar namaku dipanggil. Suara teman setimku saat lomba yang ternyata juga
menjadi mahasiswa di kelas ini. "Bagaimana hasil wawancara di Kantor
Akuntan Publik Big 4 kemarin?" Kupandang dia, lalu kujawab dengan
tersenyum,"Lolos".
"Ya iyalah, uda gue duga, lu mah pasti lolos. Selamat
yakh...", balasnya. "Iya, thanks ya..." Aku tersenyum sekali
lagi, lalu kembali berkeliling di kelas.
Kelas asistensi lab sudah selesai. Aku berbenah untuk menuju
ke perpustakaan. Karena aku akan mulai bekerja 3 bulan lagi, aku harus
menyelesaikan skripsi bulan ini supaya bisa sidang dan membereskan segala
urusanku tepat pada waktunya.
Melodi itu lagi... Kembali aku disergap kerinduan, namun aku
tidak mau melepaskannya. Sambil mengetik, kunyanyikan melodi itu dalam hatiku.
Semakin lama, rasa rindu ini semakin kuat. Ingin kutulis, namun aku bukan tipe
orang yang punya kemampuan perfect pitch yang baik, maka aku tidak tahu not apa
yang harus kutulis. Oh, sedikit penjelasan, buat yang tidak tahu apa itu
perfect pitch, itu adalah kesanggupan untuk mengetahui nada-nada lagu yang saat
itu didengarnya.
Otakku berkelana. Apa ini jalan hidupku? Berkarier di bidang
akuntansi? Kalau musik? Atau apa sih? Kalau ingin mengikuti jalur normal,
jalanku sudah benar. Siapa sih lulusan Akuntansi yang tidak mau bekerja di Kantor
Akuntan Publik Big 4?
Namun, kalau aku memilih jalur ini, mungkin aku harus
berpisah dengan musik klasik. Tidak akan ada waktu untuk berlatih dan bermain,
hanya bisa jadi pendengar saja.
Memikirkan hal itu, mendadak aku merasa kesepian. Aku tahu,
dunia musik klasik itu suatu dunia yang dingin, mereka yang diterima dan diakui
hanyalah mereka yang muda dan berbakat, dan aku jelas tidak termasuk di sana.
Kemungkinan kalau aku memilih jalan itu, aku akan jadi seorang mahasiswi biasa
yang tidak menonjol, musisi biasa yang tidak dikenal, paling banter jadi guru
piano, yang saat ini memang sedang kujalani secara paruh waktu. Kadang
terbersit keinginan kuat menjadi pengarang, tapi kutepis jauh-jauh. Aku suka
lagu ciptaanku, tapi kurasa aku tidak memiliki kualitas yang diperlukan oleh
seorang pengarang lagu.
Aku tersadar dari pengembaraanku. Kutatap laptop yang
menyala di hadapanku. Tanganku kembali menari di atas keyboard. Mungkin aku
belum akan mendapatkan jawaban atas semua ini, jadi saat ini, biarlah kulakukan
apa yang bisa kulakukan untuk mencapai tujuan pertama: lulus kuliah, menjadi
S.E. dengan nilai sebaik mungkin. Lalu mungkin bekerja dulu satu dua tahun,
sambil terus mencari dan berharap aku menemukan apa yang sesungguhnya menjadi
hasrat hidupku. Yah, jalur yang normal memang, tapi mau bagaimana lagi?
Aku kembali menghadapi fakta kehidupan, sambil ditemani
melodi syahdu itu, sambil menikmati kerinduanku seorang diri.
***
Kamis, 02 Juli 2015
Hymn Story: Does Jesus Care?
Does Jesus care when my heart is pained
Too deeply for mirth and song-
As the burdens press, and the cares distress,
And the way grows weary and long?
CHORUS: O yes, He care- I know He cares!
His heart is touched with my grief;
When the days are weary, the long nights dreary,
I know my Savior cares.
“The Sunshine Minister”,
demikianlah julukan yang diberikan kepada Pdt. Frank E. Graeff oleh para
jemaatnya. Frank Graeff (1860-1919) menerima panggilan khusus dari Allah dari
semenjak ia masih muda, untuk melayani anak-anak. Dia terkenal karena
kemampuannya untuk bercerita dan menulis artikel bagi anak-anak di berbagai
publikasi.
Graeff sendiri dikenal sebagai pribadi dengan sikap yang
sangat positif dan selalu ceria, yang membuatnya dijuluki sebagai pendeta sinar
matahari. C. Austin Miles, penulis lirik himne “In The Garden” mengenang Graeff
sebagai seseorang yang mampu menarik orang dengan kesuciannya dan memiliki iman
seorang anak-anak.
Namun kehidupan Graeff ternyata tidak selalu bersinar secerah julukannya.
Keceriaannya tersebut justru ditunjukkan di tengah berbagai masalah yang
dihadapinya, dan seringkali masalah tersebut sebenarnya sangat pelik dan sulit.
Pada masa lirik himne ini ditulis, Frank Graeff tengah
menghadapi masalah fisik yang berat, ditambah dengan meninggalnya adik
perempuannya yang hubungannya sangat dekat dengan dia. Kepergian adik
perempuannya ini menyusul ayah, ibu dan dua saudara perempuannya yang lain yang
sudah dipanggil Tuhan terlebih dahulu. Di tengah masa kesedihan yang mendalam,
keraguan dan kesakitan ini, Graeff mulai meragukan realita kehadiran Allah di
dalam penderitaannya.
Saat Graeff tengah mencari penghiburan dan kekuatan dari
Alkitab, matanya tertuju pada 1 Petrus 5:7,”Cast
all your anxieties on Him, because He cares for you”. Betapa Allah mengerti
dan peduli akan penderitaannya! “Sebab Ia yang memelihara kamu”. Setelah
merenungkan firman Tuhan tersebut, Graeff menuliskan lirik lagu ini, dengan
suatu keyakinan dan seruan imannya yang sudah dikuatkan kembali oleh Tuhan,” O yes, He cares, I know He cares!”.
Biarlah kisah ini mengingatkan kita, bahwa di dalam segala
kekhawatiran dan keraguan yang kita hadapi saat berjalan bersama Kristus, Ia
selalu berada dekat kita, siap menolong. Ia sungguh-sungguh peduli. Dan saat
kita akhirnya sungguh-sungguh menyadari penyertaan-Nya, kita akan mampu
bernyanyi bersama Graeff, ”I know my
Savior cares”.
Diterjemahkan oleh Sofia
Limantara
Langganan:
Postingan (Atom)
