Kamis, 23 Februari 2017

A Scribble and A Dream (15) - Gemerincing Si Riak Kecil


Gemerincing Si Riak Kecil

Cing, cing, kerincing
Rasa hati beriak-riak kecil
Bak sungai berair bening
Rindukan hilir walau ia mungil

Cing, cing, kerincing
Kala hati menanti-nanti
Kisah indah yang belum datang
Ibarat dunia mimpi dan para peri

Hanya ia dan dirinya seorang
Musik dan tari berdendang
Gaun lembut halus melambai
Iringin langkah nyanyian hati

Hanya ia dan dirinya seorang
Nikmati melankolisnya melodi
Dengan hati terbungkus rapi
Terbuai galaunya sepi dan sedih

Dan ia berhenti
Menatap diri di ruang sepi
Melihat dia yang di dalam kaca
Membaca emosi tak tertumpahkan

Menelisik isi hati
Gejolak rindu dan pasrah
Ingin sabar menanti
Belajar sanggup berserah

Di tengah kerincing gemerincing
Riak-riak kecil di hati

***

Senin, 20 Februari 2017

A Scribble and A Dream (14) - A Small Turbulence


A SMALL TURBULENCE

A month has passed
She has understood
That surrendering to Him in faith
Means giving her undivided heart to her Heavenly Groom

Since then, she has tried to remember
All that she read reminded her
To that promise she made to Him
That day when she read it in a book

Ah, how good intention of friends
Could sometime become the means
For the accuser to rock her determination
And make her fragile, unfaithful heart waver

Just when she decided to forget that person
And focus instead on what's in front of her
To duly, full heartedly finish the current calling
Entrusted by Him to her

Just a single chat
Telling her how her truly good friends have tried
To convince that person to approach her
And her heart immediately hoped for the thing
That she is not yet entitled to, not yet granted to have

Just how silly, how ungrateful and how unbelieving
How unfaithful a human's heart can be!

And yet she learned
How she found her peace back
By telling her Heavenly Groom aloud
Asking Him to console her and guard her heart
Asking Him to strengthen her to chase away the accuser

"Go away, you accuser!
Go away, you who seek to bring me farther away from His love!
Go away, you who seek to make me question His timing!
Go away, you who seek to make me doubt His best plans!"

And thus
In the midst of a turbulence
She learned that only His grace
Will help her get through

A small turbulence
is just what she needed to take another step forward
in learning to love and trust her Heavenly Groom

And for that,
She is again grateful.

***

Jumat, 17 Februari 2017

My Personal Bible Journal - 1 Korintus 4


1 KORINTUS 4
PELAYANAN PARA RASUL

OK, ini akan jadi jurnal pertama yang gw tulis tentang refleksi gw saat baca Alkitab. Hopefully bisa bertahan jurnalnya, karena sebenarnya yang memerlukan ini, pertama dan terutama, adalah diri gw sendiri. Namun jika entah dari mana, ada yang baca refleksi singkat saya di dalam blog yang semi-semi private ini (karena saking terpencilnya), gw bakal bersyukur banget sama Tuhan.

LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) memberi berbagai sub judul untuk pasal ini. Tapi versi ESV memberi judul "Pelayanan para rasul (the ministry of apostles)". Anyway, let's dive into it.

Paulus membuka pasal ini dengan kalimat, "This is how one should regard us, as servants of Christ and stewards of the mysteries of God (1 Kor 4:1)". Dalam bahasa Indonesia, "Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah." Lah, emang sekarang ini, bagaimana orang-orang Korintus memandang Paulus?

Ternyata ini terkait sama pasal 1:12 dan pasal 3, di mana dalam jemaat Korintus itu disebut terjadi perpecahan. Ada yang bilang, "Gue golongan Paulus!" atau "Gue golongan Apolos!" atau "Gue golongan Kefas/Petrus!" Yang lebih keren, ada yang bilang "Gue golongan Kristus!". Entah apa dasarnya mereka bikin berbagai golongan ini, yang pasti ini bikin jemaat Korintus jadi ribut, berantem sendiri. Padahal, ini jemaat yang - kalau yang saya dengar dari berbagai kotbah - paling dapat berkat, mereka "kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan... tidak kekurangan dalam suatu karunia pun... (1 Kor 1:5,7)"      *huft*

OK, back to chapter 4. Jadi Paulus mau bilang di sini, setelah beberapa teguran di pasal-pasal sebelumnya, kalau para rasul dan pelayan itu hanya sesama pelayan, hamba Kristus, nothing less, nothing more. Dan apa itu sesuatu jabatan buat keren-kerenan? Yang terhormat? Yang enak?

Ga juga tuh...

Pertama, apa syaratnya dan tuntutan buat para pelayan/hamba ini? Setia (1 Kor 4:2). Singkat yah? Coba kita lanjut dulu...

Ayat-ayat berikutnya, 1 Korintus 4:3-5, bicara tentang apa yang jadi judul di Alkitab LAI. Di sini Paulus mengingatkan kita, bahwa pelayanan dan pekerjaan yang kita lakukan, tidak boleh dihakimi oleh siapapun, entah itu diri sendiri, orang lain yang belum percaya, atau bahkan sesama orang Kristen, selain daripada Tuhan. Tapi pelayanan dan pekerjaan yang positif yah maksudnya, jangan nanti dikira pekerjaan yang negatif ga boleh ditegur. Kalau ga, buat apa Paulus nulis surat ini, yang isinya sebagian besar teguran semua? :-p

Jadi, siapa satu-satunya yang boleh dan layak menilai pekerjaan dan pelayanan kita? Ga lain ga bukan, cuma Tuhan saja. Yup, cuma Dia. Why? Karena cuma Dia yang sanggup "menerangi, juga apa yang tersembunyi did dalam kegelapan, dan yang akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati manusia (terj. semi bebas dari 1 Kor 4:5). Tuhan lah yang akan memberikan ganjaran bagi apa yang kita lakukan, karena itu kita harus bertanggung jawab masing-masing di hadapan Tuhan.

Dan Paulus ngomong gini, bukan cuma "omdo (omong doang)" loh... Dia sendiri sudah terapkan, baik ke dirinya sendiri maupun ke Apolos.Tujuannya? Supaya jemaat di Korintus belajar dari teladan mereka untuk "tidak melampaui apa yang tertulis" dan tidak saling menyombongkan diri di antara sesama mereka (1 Kor 4:6).

Kenapa ga boleh sombong? Karena semua yang mereka miliki kekayaan dalam perkataan, pengetahuan dan karunia itu, bahkan Injil yang mereka percaya pun, itu semua pemberian!. Kalau kita punya kekayaan/harta, tapi itu semua bukan hasil usaha kita, melainkan dikasih cuma-cuma, yah memang seharusnya ga ada ruang bagi kita untuk sombong, ya gak?

Di ayat-ayat berikutnya, ayat 8-13, Paulus masuk poin kedua, sambil separuh frustasi ngomelin jemaat Korintus yang uda nyasar ini. "Lu itu uda kenyang! Uda dianugerahi kekayaan!" Tanpa kami, kamu telah menjadi raja!" Berasa rada nyindir sih... Paulus lalu lanjut membicarakan, apa gampang mau setia sebagai hamba Tuhan, sebagai rasul? Coba liat listingnya Paulus:
  1. Para rasul diberikan tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati,
  2. Para rasul telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.
  3. Para rasul bodoh oleh karena Kristus, tetapi jemaat Korintus arif dalam Kristus.
  4. Para rasul lemah, tetapi jemaat Korintus kuat.
  5. Para rasul mulia, tetapi jemaat Korintus hina.
  6. Sampai pada saat ini para rasul lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, serta melakukan pekerjaan tangan yang berat.
  7. Kalau para rasul dimaki, para rasul memberkati;
  8. Kalau para rasul dianiaya, para rasul sabar;
  9. Kalau para rasul difitnah, para rasul tetap menjawab dengan ramah;
  10. Para rasul telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.

Enak? Ga sama sekali... Orang normal pasti ga mau hidup kayak gitu, kecuali kalau betul-betul dapat kekuatan dan penghiburan dari Tuhan sendiri.

Terus buat apa Paulus nyebutin semua "jasa"-nya ini di sini? Buat nyombong karena dia uda lebih setia daripada jemaat di Korintus? Salah banget! Paulus bilang, "Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi. (1 Kor 4:14)" Paulus sebagai bapa rohani yang memberitakan Injil kepada mereka, dan begitu mengasihi mereka, merasa perlu untuk menegor mereka, para anak-anak rohaninya yang sudah mulai menyimpang. Persis seperti apa yang dibilang di Amsal 3:11-12 dan Amsal 13:24. Monggo dicek yo...

Kalau dipikir-pikir yah, di gereja masa kini pun, kita akan sangat banyak menjumpai pendidik di dalam Kristus, seperti apa yang Paulus tulis ayat 15. Pendidiknya juga macam-macam, mulai dari yang benar dan jadi teladan yang baik, sampai yang "agak" ngaco dan ga kasih contoh teladan yang baik, malah jadi batu sandungan... Makanya Paulus ingetin lagi, "Turutilah teladanku!", turutilah teladan bapa rohani kita. Dan untuk itu juga, Paulus kirim Timotius kepada mereka, supaya Timotius bisa memperingatkan mereka akan hidup yang Paulus turuti dalam Kristus Yesus, seperti yang Paulus ajarkan di berbagai jemaat (1 Kor 4:16).

Paulus lalu kembali memperingatkan para anggota jemaat Korintus yang berkata-kata sombong bahwa, "Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." Dan, saking gemesnya sama jemaat Korintus, kalau di konteks sekarang, mungkin ucapan terakhir Paulus dalam pasal ini bakal jadi, "Jadi lu mau gue gimana? Mau gue datang pakai cambuk buat mukul, atau mau pakai hati yang penuh kasih dan lemah lembut?"

Ini sekaligus bisa jadi poin refleksi kita juga. Apakah kita ini juga, tanpa sadar, seperti jemaat Korintus? Kita yang tinggal di Ibukota, di mana segalanya ada, material, seminar yang baik, kotbah-kotbah yang baik. Untuk apa kita belajar dan ikut semuanya itu? Untuk apa kita pelayanan? Apa untuk cari nama bagi diri sendiri? Untuk menyombongkan dan menaikkan status kita? Untuk saling menghakimi jika ada sesama saudara seiman yang berbuat salah? Untuk berdebat dan bikin keributan?

Atau untuk saling membangun di tengah situasi yang, walau tampak sempurna, tetap masih dicemari oleh dosa? Untuk saling menguatkan dan menghibur di tengah penganiayaan dan peperangan yang tak terlihat, yang sedang kita hadapi bersama saat ini?

Dan apakah kita sudah berdoa bagi para bapa rohani dan pendidik kita di dalam Tuhan, agar Tuhan menjaga mereka untuk tetap memiliki hati yang penuh kasih untuk mendidik dan menegur para anak-anak rohani mereka, sekaligus supaya jangan sampai mereka sendiri akhirnya terseret dan terhilang? Ini bukan peristiwa yang ga mungkin loh! Terakhir, apa kita sudah berdoa agar kita semua diberi kesetiaan dan kerendahhatian di tengah segala godaan untuk menjadi sombong, godaan untuk lupa anugerah Tuhan, dan segala hambatan dan tantangan untuk lari dari teladan Kristus, yang diteladani oleh Paulus dan para bapa gereja kita di jemaat mula-mula?

Semoga segala kemuliaan dikembalikan kepada Tuhan, yang memberikan kita hati yang mau bertobat dan kekuatan untuk kembali belajar mengasihi Dia. Dan jika ada yang sesat atau kurang tepat, mohon tegurannya...
Powered By Blogger