Rabu, 15 Juli 2015

My Little Story 2

April 23, 2015 at 4:08pm


“Ya, boleh tolong dibuat listingnya? Kita perlu listing itu untuk mengontrol supaya tidak ada dokumen satu pun yang terlewat… Ya, ya, nanti coba saya tanyakan ke Pusat yah? Thank you…”

Telepon ditutup. Sang pemudi berpikir sejenak. Jari jemarinya meraih mouse yang tergeletak di mejanya.

Klik… Klik…Kursor kecil itu mengembara di layar laptopnya.

Email dari Ibu M terkait review regulator.
Ada jadwal pelatihan dari Ikatan Akuntan Indonesia.

Diraihnya handphonenya.
BBM koordinasi meeting persiapan review dari regulator.
Percakapan dengan teman kuliah S2 mengenai tugas paper kelompok.
Kembali matanya mengarah kepada layar laptop. Klik… Klik…

Sampai tiba-tiba matanya mengarah ke sudut kanan bawah.
Sebuah FB notes yang dulu ia pernah buat,“My Little Story”.
“Bahkan akupun lupa apa isinya…”
Penasaran, kursornya memilih “Open in New Tab”.

***
June 11, 2010 at 9.51 pm

Aku tersadar dari pengembaraanku. Kutatap laptop yang menyaladi hadapanku. Tanganku kembali menari di atas keyboard. Mungkin aku belum akan mendapatkan jawaban atas semua ini, jadi saat ini, biarlah kulakukan apa yang bisa kulakukan untuk mencapai tujuan pertama: lulus kuliah, menjadi S.E. dengan nilai sebaik mungkin. Lalu mungkin bekerja dulu satu dua tahun, sambil terus mencari dan berharap aku menemukan apa yang sesungguhnya menjadi hasrat hidupku. Yah, jalur yang normal memang, tapi mau bagaimana lagi?

***
Sang pemudi tersenyum kecil. Satu dua tahun?

Ditatapnya kalender di meja kerjanya. 23 April 2015. Sudah hampir 5 tahun lewat semenjak kerinduan itu menyergap batinnya. Sebuah kerinduan yang, kadang-kadang terlupakan, terpendam di dalam kesibukannya sebagai seorang karyawati.

5 tahun sudah berlalu, dan apa yang sudah ia lakukan?
1 tahun sebagai staf accounting, 6 bulan sebagai eksternal auditor, 2 tahun sebagai internal auditor, dan saat ini, sudah memasuki bulan ke-9 posisinya sebagai Quality Control. Dari sudut pandang orang normal, alur karirnya bisa dibilang agak tidak wajar.

Dalam 5 tahun, berpindah kerja 4 kali? Semua lain posisi?

Ditambah lagi, sekarang bebannya bertambah dengan kuliah S2 malam. Suatu hal yang mungkin seharusnya sudah bisa diselesaikan seandainya 4 tahun yang lalu, ia tetap mengambil jalur Dual Degree di almameternya, dan tidak berhenti hanya di Program PPAK. Bahkan S2-nya sekarang ini agak aneh, Magister Manajemen. Notabene nyaris tidak ada hubungan dengan pekerjaannya sekarang di Kantor Akuntan Publik, yang pada naturnya accounting banget.

Nyaris tanpa tujuan? Ya, mungkin. Ada kesan seperti itu, dan ia tidak akan bisa menampik. CV adalah CV, suatu fakta yang tidak bisa diubah.

Terus mencari dan berharap aku menemukan apa yang sesungguhnya menjadi hasrat hidup?

Entah berapakali ia mendapati dirinya mencari mengenai sekolah musik di internet, mulai dari sekolah musik klasik sampai sekolah musik etnis. Terombang-ambing di antara keinginan belajar musik lagi, dengan rasionalitas pikirannya bahwa waktunya sekarang sudah habis untuk hal lain yang “lebih penting”. Bahwa musik tidak akan bisa menjadi mata pencaharian yang baik baginya, apalagi dengan kondisinya saat ini yang sudah memiliki gaji yang cukup mapan. Bahwa waktu yang ia berikan untuk S2 dan karir tidak cukup berharga untuk dibagi juga kepada keinginannya bermain musik, yang selalu timbul, tenggelam, timbul, tenggelam...

Orang bodoh mana yang akan meninggalkan kemapanan gaji untuk hal yang tidak pasti? Tunggu, mungkin ada beberapa yang akan rela, tapi yang pasti, dia tidak termasuk salah satunya. Tidak akan mungkin, dengan orang tua yang selalu menekankan rasionalitas dan logika dalam setiap pengambilan keputusan. Meninggalkan kemapanan gaji demi hasrat yang belum teruji, adalah suatu tindakan emosional yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan akan membuat orang tua manapun khawatir.

“Setidaknya sampai aku punya cukup tabungan…” demikian pikirnya sekarang.

Namun, entah berapa kali, lagi-lagi alunan melodi bernyanyi di dalam batinnya. Setiap kali, melodi itu akan selalu berganti. Dan entah berapa kali, melodi itu hilang, sirna ditelan waktu, dan tidak akan pernah dilahirkan kembali. Hanya beberapa yang bertahan hidup, di dalam sebuah buku catatan yang hanya ia sendiri yang tahu di mana tempatnya. Bahkan buku catatan itu bisa saja terlupakan, dan berakhirlah kehidupan para melodi tersebut.

Saat ia kagum, lalu jatuh cinta lagi setelah sekian lama, dan ia tahu persis bahwa cintanya akan selamanya menjadi cinta tak berbalas. Saat ia mengetahui bahwa orang yang ia kagumi tersebut akan pindah departemen, dan tidak akan ada lagi di sana untuk membimbing, meledek dan menertawakannya. Saat ia, dengan berat hari, memutuskan untuk melangkah kembali ke tempat kerja baru, meninggalkan juniornya, berusaha menerima bahwa jalan sudah hampir pasti tertutup baginya di kantor lamanya, seberapa pun ia mengharapkan kemunculan jalan tersebut.

Semua melodi itu tersimpan bagi dirinya. Dirinya seorang. Tak seorang pun akan tahu, dan akan ingat (kecuali adik perempuannya, mungkin). Bisa jadi saat ia pergi nanti untuk selamanya, entah kapan, melodi itu akan selamanya tersimpan rapi, tanpa akan ada yang pernah menyanyikannya lagi.

“Sejak kapan aku menjadi seperti ini? Di mana diriku yang dulu? Yang sudah jatuh cinta dengan musik itu? Apakah aku harus menyerah? Atau tepatnya, apakah aku sudah menyerah?”

***

Betapa dirinya begitu bersemangat saat tahu akan ada acara musik di gerejanya, dan ia menjadi salah satu pengagasnya. Begitu mendebarkan dan menggairahkan, betapa ia menantikan saat-saat berkumpul dan berlatih bersama rekan-rekannya. Namun, sepertinya hanya dia sendiri yang bersemangat. Kadang-kadang,ia takut semangatnya itu sudah mengganggu yang lain, yang sama-sama berstatus orang gawe. Ya, sering kali ia frustasi, karena antusiasmenya ia rasakan seorang diri, dan setiap kekesalan disimpannya seorang diri.

Dan setelah semuanya itu selesai, ia tahu, ia akan sekali lagi kembali kepada realita. Realita bahwa musik tidak akan pernah menjadi bagian utama dalam hidupnya. Bahwa musik akan menjadi salah satu perjuangan yang sulit baginya, dan kini sudah mulai malas ia kejar. Bahwa musik akan menjadi mimpi yang entah kapan, baru akan tercapai. Atau mungkin menghilang tersapu arus waktu?

Bahwa musik, selamanya baginya, tidak akan membuat orang lain menyadari keberadaan dirinya. Bagaimanapun, ia hanya musisi amatir, musisi yang bahkan jauh di bawah rata-rata, musisi nanggung. Bahwa sampai saat ini, ia dengan desperate berusaha untuk bertahan, dan entah akan sanggup bertahan sampai kapan, sebelum akhirnya menyerah.

“Nanti,setelah 1-2 tahun bekerja…”
“Nanti,setelah saya ada pengalaman dulu…”
“Nanti,setelah gaji saya mapan…”
“Nanti,setelah saya selesai S2…”
Nanti… Nanti…Nanti…

Sampai suatu saat, ia akan lelah menanti. Dan berhenti berharap, berhenti berusaha. Dan pasrah kepada jalan hidupnya, memilih untuk go with the flow.

***

Jam 4 sore. Masih jam kantor.
Sudah cukup lama pikirannya melanglang buana.
Atasannya sudah mampir untuk diskusi, dan sudah pergi lagi.
Dokumen dan selusin ordner masih memenuhi meja kerjanya, dan file untuk bahan meeting nanti sore sudah menanti untuk dibaca.

“Ah sudahlah… Korupsi waktu saja… Mari kita kembali bekerja…”
Ditutupnya layar dokumen kecil berisi sekelumit kisah hidupnya itu.

“Haduh, kok checklistnya masih belum lengkap juga sih? Sudah berapa kali dibilangin ini.....”

***

My Little Story

June 11, 2010 at 9:51pm


Dengan lembut kugesek senar cello itu. Suaranya mengalun indah, mengelus jiwaku. Aku tersenyum.
Kupandang sekelilingku. Teman-teman musisiku. Perpaduan suara yang manis, harmoni yang mengugah hati. Aku memejamkan mata, menikmati kebahagiaan ini.

***

Aku terbangun. Kulirik HP. Jam 8 pagi.

Aku mendesah panjang. Mimpi yang sangat indah dan manis. Sayang aku tidak bisa bermain cello. Tepatnya, suka dan ingin bisa tapi tidak ada kesempatan belajar. Aku memang pernah belajar piano klasik, tapi, yah, aku tipe murid yang biasa-biasa saja. Tidak menonjol, juga tidak jelek.

Kakiku melangkah menuju ke kamar mandi. Hari ini Senin, dan aku harus ke kampus untuk menyelesaikan skripsi dan asistensi lab seperti biasa. Aku bersiap-siap, menyambar sarapanku, pamit kepada kedua orangtuaku lalu berangkat.

Sesampainya di kampus, aku melangkah menuju ke kelas tempat aku mengajar. Partner mengajarku sedang mengambil peralatan yang kami perlukan. Mata kuliah ini salah satu mata kuliah kesukaanku, uditing. Sambil menunggu, pikiranku melayang.

Sebuah melodi mulai mengalun dalam pikiranku. Salah satu dari sedikit lagu ciptaanku yang pasti kelak akan kulupakan, dan ini melodi favoritku. Setiap kali melodi itu mengalun, betapa aku merasakan kerinduan memelukku erat. Entah kerinduan kepada apa.

Kelas asistensi lab dimulai. Kusimpan baik-baik melodi itu dalam hatiku, berharap dia masih di sana saat aku selesai mengajar, lalu kembali ke dalam realita dunia. Di sini aku, seorang mahasiswi Akuntansi tingkat akhir, mengajar untuk adik-adik tingkatku.

Aku berjalan ke belakang kelas untuk mengontrol. Lalu kudengar namaku dipanggil. Suara teman setimku saat lomba yang ternyata juga menjadi mahasiswa di kelas ini. "Bagaimana hasil wawancara di Kantor Akuntan Publik Big 4 kemarin?" Kupandang dia, lalu kujawab dengan tersenyum,"Lolos".

"Ya iyalah, uda gue duga, lu mah pasti lolos. Selamat yakh...", balasnya. "Iya, thanks ya..." Aku tersenyum sekali lagi, lalu kembali berkeliling di kelas.

Kelas asistensi lab sudah selesai. Aku berbenah untuk menuju ke perpustakaan. Karena aku akan mulai bekerja 3 bulan lagi, aku harus menyelesaikan skripsi bulan ini supaya bisa sidang dan membereskan segala urusanku tepat pada waktunya.

Melodi itu lagi... Kembali aku disergap kerinduan, namun aku tidak mau melepaskannya. Sambil mengetik, kunyanyikan melodi itu dalam hatiku. Semakin lama, rasa rindu ini semakin kuat. Ingin kutulis, namun aku bukan tipe orang yang punya kemampuan perfect pitch yang baik, maka aku tidak tahu not apa yang harus kutulis. Oh, sedikit penjelasan, buat yang tidak tahu apa itu perfect pitch, itu adalah kesanggupan untuk mengetahui nada-nada lagu yang saat itu didengarnya.

Otakku berkelana. Apa ini jalan hidupku? Berkarier di bidang akuntansi? Kalau musik? Atau apa sih? Kalau ingin mengikuti jalur normal, jalanku sudah benar. Siapa sih lulusan Akuntansi yang tidak mau bekerja di Kantor Akuntan Publik Big 4?

Namun, kalau aku memilih jalur ini, mungkin aku harus berpisah dengan musik klasik. Tidak akan ada waktu untuk berlatih dan bermain, hanya bisa jadi pendengar saja.

Memikirkan hal itu, mendadak aku merasa kesepian. Aku tahu, dunia musik klasik itu suatu dunia yang dingin, mereka yang diterima dan diakui hanyalah mereka yang muda dan berbakat, dan aku jelas tidak termasuk di sana. Kemungkinan kalau aku memilih jalan itu, aku akan jadi seorang mahasiswi biasa yang tidak menonjol, musisi biasa yang tidak dikenal, paling banter jadi guru piano, yang saat ini memang sedang kujalani secara paruh waktu. Kadang terbersit keinginan kuat menjadi pengarang, tapi kutepis jauh-jauh. Aku suka lagu ciptaanku, tapi kurasa aku tidak memiliki kualitas yang diperlukan oleh seorang pengarang lagu.

Aku tersadar dari pengembaraanku. Kutatap laptop yang menyala di hadapanku. Tanganku kembali menari di atas keyboard. Mungkin aku belum akan mendapatkan jawaban atas semua ini, jadi saat ini, biarlah kulakukan apa yang bisa kulakukan untuk mencapai tujuan pertama: lulus kuliah, menjadi S.E. dengan nilai sebaik mungkin. Lalu mungkin bekerja dulu satu dua tahun, sambil terus mencari dan berharap aku menemukan apa yang sesungguhnya menjadi hasrat hidupku. Yah, jalur yang normal memang, tapi mau bagaimana lagi?

Aku kembali menghadapi fakta kehidupan, sambil ditemani melodi syahdu itu, sambil menikmati kerinduanku seorang diri.

***

Kamis, 02 Juli 2015

Hymn Story: Does Jesus Care?

Does Jesus care when my heart is pained
Too deeply for mirth and song-
As the burdens press, and the cares distress,
And the way grows weary and long?
CHORUS: O yes, He care- I know He cares!
His heart is touched with my grief;
When the days are weary, the long nights dreary,
I know my Savior cares.

          “The Sunshine Minister”, demikianlah julukan yang diberikan kepada Pdt. Frank E. Graeff oleh para jemaatnya. Frank Graeff (1860-1919) menerima panggilan khusus dari Allah dari semenjak ia masih muda, untuk melayani anak-anak. Dia terkenal karena kemampuannya untuk bercerita dan menulis artikel bagi anak-anak di berbagai publikasi.
          Graeff sendiri dikenal sebagai pribadi dengan sikap yang sangat positif dan selalu ceria, yang membuatnya dijuluki sebagai pendeta sinar matahari. C. Austin Miles, penulis lirik himne “In The Garden” mengenang Graeff sebagai seseorang yang mampu menarik orang dengan kesuciannya dan memiliki iman seorang anak-anak.
          Namun kehidupan Graeff ternyata tidak selalu bersinar secerah julukannya. Keceriaannya tersebut justru ditunjukkan di tengah berbagai masalah yang dihadapinya, dan seringkali masalah tersebut sebenarnya sangat pelik dan sulit.
          Pada masa lirik himne ini ditulis, Frank Graeff tengah menghadapi masalah fisik yang berat, ditambah dengan meninggalnya adik perempuannya yang hubungannya sangat dekat dengan dia. Kepergian adik perempuannya ini menyusul ayah, ibu dan dua saudara perempuannya yang lain yang sudah dipanggil Tuhan terlebih dahulu. Di tengah masa kesedihan yang mendalam, keraguan dan kesakitan ini, Graeff mulai meragukan realita kehadiran Allah di dalam penderitaannya.
Saat Graeff tengah mencari penghiburan dan kekuatan dari Alkitab, matanya tertuju pada 1 Petrus 5:7,”Cast all your anxieties on Him, because He cares for you”. Betapa Allah mengerti dan peduli akan penderitaannya! “Sebab Ia yang memelihara kamu”. Setelah merenungkan firman Tuhan tersebut, Graeff menuliskan lirik lagu ini, dengan suatu keyakinan dan seruan imannya yang sudah dikuatkan kembali oleh Tuhan,” O yes, He cares, I know He cares!”.
          Biarlah kisah ini mengingatkan kita, bahwa di dalam segala kekhawatiran dan keraguan yang kita hadapi saat berjalan bersama Kristus, Ia selalu berada dekat kita, siap menolong. Ia sungguh-sungguh peduli. Dan saat kita akhirnya sungguh-sungguh menyadari penyertaan-Nya, kita akan mampu bernyanyi bersama Graeff, ”I know my Savior cares”.

Berikut link not balok untuk himne ini.

Diterjemahkan oleh Sofia Limantara
Powered By Blogger