June 11, 2010 at 9:51pm
Dengan lembut kugesek senar cello itu. Suaranya mengalun
indah, mengelus jiwaku. Aku tersenyum.
Kupandang sekelilingku. Teman-teman musisiku. Perpaduan
suara yang manis, harmoni yang mengugah hati. Aku memejamkan mata, menikmati
kebahagiaan ini.
***
Aku terbangun. Kulirik HP. Jam 8 pagi.
Aku mendesah panjang. Mimpi yang sangat indah dan manis. Sayang
aku tidak bisa bermain cello. Tepatnya, suka dan ingin bisa tapi tidak ada
kesempatan belajar. Aku memang pernah belajar piano klasik, tapi, yah, aku tipe
murid yang biasa-biasa saja. Tidak menonjol, juga tidak jelek.
Kakiku melangkah menuju ke kamar mandi. Hari ini Senin, dan
aku harus ke kampus untuk menyelesaikan skripsi dan asistensi lab seperti
biasa. Aku bersiap-siap, menyambar sarapanku, pamit kepada kedua orangtuaku
lalu berangkat.
Sesampainya di kampus, aku melangkah menuju ke kelas tempat
aku mengajar. Partner mengajarku sedang mengambil peralatan yang kami perlukan.
Mata kuliah ini salah satu mata kuliah kesukaanku, uditing. Sambil menunggu,
pikiranku melayang.
Sebuah melodi mulai mengalun dalam pikiranku. Salah satu
dari sedikit lagu ciptaanku yang pasti kelak akan kulupakan, dan ini melodi
favoritku. Setiap kali melodi itu mengalun, betapa aku merasakan kerinduan
memelukku erat. Entah kerinduan kepada apa.
Kelas asistensi lab dimulai. Kusimpan baik-baik melodi itu
dalam hatiku, berharap dia masih di sana saat aku selesai mengajar, lalu
kembali ke dalam realita dunia. Di sini aku, seorang mahasiswi Akuntansi
tingkat akhir, mengajar untuk adik-adik tingkatku.
Aku berjalan ke belakang kelas untuk mengontrol. Lalu
kudengar namaku dipanggil. Suara teman setimku saat lomba yang ternyata juga
menjadi mahasiswa di kelas ini. "Bagaimana hasil wawancara di Kantor
Akuntan Publik Big 4 kemarin?" Kupandang dia, lalu kujawab dengan
tersenyum,"Lolos".
"Ya iyalah, uda gue duga, lu mah pasti lolos. Selamat
yakh...", balasnya. "Iya, thanks ya..." Aku tersenyum sekali
lagi, lalu kembali berkeliling di kelas.
Kelas asistensi lab sudah selesai. Aku berbenah untuk menuju
ke perpustakaan. Karena aku akan mulai bekerja 3 bulan lagi, aku harus
menyelesaikan skripsi bulan ini supaya bisa sidang dan membereskan segala
urusanku tepat pada waktunya.
Melodi itu lagi... Kembali aku disergap kerinduan, namun aku
tidak mau melepaskannya. Sambil mengetik, kunyanyikan melodi itu dalam hatiku.
Semakin lama, rasa rindu ini semakin kuat. Ingin kutulis, namun aku bukan tipe
orang yang punya kemampuan perfect pitch yang baik, maka aku tidak tahu not apa
yang harus kutulis. Oh, sedikit penjelasan, buat yang tidak tahu apa itu
perfect pitch, itu adalah kesanggupan untuk mengetahui nada-nada lagu yang saat
itu didengarnya.
Otakku berkelana. Apa ini jalan hidupku? Berkarier di bidang
akuntansi? Kalau musik? Atau apa sih? Kalau ingin mengikuti jalur normal,
jalanku sudah benar. Siapa sih lulusan Akuntansi yang tidak mau bekerja di Kantor
Akuntan Publik Big 4?
Namun, kalau aku memilih jalur ini, mungkin aku harus
berpisah dengan musik klasik. Tidak akan ada waktu untuk berlatih dan bermain,
hanya bisa jadi pendengar saja.
Memikirkan hal itu, mendadak aku merasa kesepian. Aku tahu,
dunia musik klasik itu suatu dunia yang dingin, mereka yang diterima dan diakui
hanyalah mereka yang muda dan berbakat, dan aku jelas tidak termasuk di sana.
Kemungkinan kalau aku memilih jalan itu, aku akan jadi seorang mahasiswi biasa
yang tidak menonjol, musisi biasa yang tidak dikenal, paling banter jadi guru
piano, yang saat ini memang sedang kujalani secara paruh waktu. Kadang
terbersit keinginan kuat menjadi pengarang, tapi kutepis jauh-jauh. Aku suka
lagu ciptaanku, tapi kurasa aku tidak memiliki kualitas yang diperlukan oleh
seorang pengarang lagu.
Aku tersadar dari pengembaraanku. Kutatap laptop yang
menyala di hadapanku. Tanganku kembali menari di atas keyboard. Mungkin aku
belum akan mendapatkan jawaban atas semua ini, jadi saat ini, biarlah kulakukan
apa yang bisa kulakukan untuk mencapai tujuan pertama: lulus kuliah, menjadi
S.E. dengan nilai sebaik mungkin. Lalu mungkin bekerja dulu satu dua tahun,
sambil terus mencari dan berharap aku menemukan apa yang sesungguhnya menjadi
hasrat hidupku. Yah, jalur yang normal memang, tapi mau bagaimana lagi?
Aku kembali menghadapi fakta kehidupan, sambil ditemani
melodi syahdu itu, sambil menikmati kerinduanku seorang diri.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar