Senin, 19 Desember 2016

A Scribble and A Dream (8) - A (Very) Happy News


A (Very) Happy News

He is super thrilled.
He is "finally" moving to a better job, with a far better salary.
And, hopefully, a better superior as well.
His soon-to-be manager is their long-time-church friend after all.
He was even the bestman for his soon-to-be-manager's wedding.

Yup, it is very, very evident in her ears.
His voice is so clearly celebrating.
It's even trembling with excitement, full of happiness.
In her mind, she can picture him jumping in joy.

And that makes her want to jump in joy with him.
Unfortunately, it's currently office hour.
'No jumping in the office'
'Should such a sign existed in this office, it will be hilarious'
She giggled silently in her heart.

At least, her lips can't help but smile.
She wondered, is that how her voice was 3 years ago?
When she told her father about her acceptance in her current office?
'I think, I now understand how he felt that time'

And then, something new happened.
She get this overwhelming feeling.
It's so moving that she almost shed tears.
Is this how it feels to become genuinely joyful with others?

Or, maybe it's caused by other things?
She doesn't have this feeling with her other (girl) friends.
This is the first time ever for her.
Is it? Or, is it not?

A single voice chat, and a very short one at that.
A simple chat is enough to make her wonder.
'I think, maybe... But I'm not so sure...'

OK, off you go, back to work.

***

Selasa, 13 Desember 2016

Catatan Harian Sang Burung Gagak - Dalam Sebuah Dunia


DALAM SEBUAH DUNIA

Aku melihat air matamu
Dan kamu melihat air mataku
Dalam sebuah dunia
Yang sudah tiada saling percaya

Aku curiga padamu
Dan kau curiga padaku
Dalam sebuah dunia
Di mana kebencian adalah makanan utama

Dalam sebuah dunia
Di mana empati sudah dicampakkan
Kata “mendengar” sudah dihapuskan
Kata “renungkan” dan “ujilah” dikuburkan

Dalam sebuah dunia
Di mana panggung sandiwara merajalela
Konspirasi menjadi pola pikir utama
Semua saling adu teriak menjadi yang paling pertama

Di sini, aku dan kamu, ya, kita semua
Berdiri dengan seribu ucapan yang tak terkatakan

(Catatan harian sang Burung Gagak, 13/12/2016)

Catatan Harian Sang Burung Gagak - Susu dan Nila


SUSU DAN NILA

Seekor burung gagak
Hinggap di atas dahan pohon tegak
Paruhnya dibuka, matanya membelalak
Berkaok-kaok dengan suaranya parau

“Dengarlah, dengarlah hai kawanku!
Ini suaraku, yang sebentar lagi akan hilang terbawa waktu!
Dengarlah, dengarlah walau kau tak setuju!
Karena setelah ini, lupakan saja kata-kataku!

Kata-kata mutiara jaman dahulu:
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga
Lihatlah, ia telah meneteskan nila dalam susu kita!
Mari kita lupakan semua usaha kerja kerasnya!
Nila itu telah menghapuskan semua jasa-jasanya!
Katakanlah, katakanlah!
Apakah nila itu?
Kau sendiri juga tahu
Apa seruan massa pada hari Jumat yang lalu.

Ingatlah, ingatlah!
Inilah nila yang teramat besarnya
Sehingga perlu setaralah hukumannya
Kalau perlu melebihi para pendahulunya
Yang tampaknya memberikan susu murni kepada kita

Apakah mereka memberi kita susu tanpa nila?
Aku tak tahu, dan generasiku kadang sudah lelah mencari tahu
Mungkin selama ini kita minum nila
Sehingga nila terasa susu, dan susu terasa nila

Apa yang sebelumnya telah kita minum dengan rela,
Itu susukah? Nilakah?
Karena kata tiga huruf itu, KKN, sudah menjadi biasa
Mereka penjamin kehidupan si pelakunya
Kita sudah acuh dan kebal padanya

Walau mungkin sang tiga huruf
akan jadi nila bagi generasi penerus bangsa
Selama hidup pelakunya aman tenteram, itulah susu bagi mereka!

Jangan! Jangan kau pilih!
Ia yang telah meneteskan setetes cairan mirip nila
Sehingga tampak merusak susu sebelanga
Ia sudah tak pantas dipercaya lagi!

Lupakan, lupakan!
Semua jerih payah, elusan dada, air mata, gelisah dan doanya bagi kita!
Lupakan saja!

Karena kita ini para orang egois, dan bahkan aku juga
Bangsa kita belum siap minum susu
Dan mungkin harus kembali belajar dari nila rasa susu.

Kau, ya kau! Kau yang akan kami pilih!
Ingatlah dan jangan pernah lupakan
Bahwa nila setitik akan merusakkan susu sebelanga!"

Seekor burung gagak
Telah lelah berkaok
Pergi terbang mencari makan siangnya
Seekor cacing untuk mengisi perutnya

(Dikaokkan oleh Sang Burung Gagak, 7 November 2016)
- Postingan ini adalah sesuai postingan asli si Gagak di Facebook -

Kamis, 08 Desember 2016

A Scribble and A Dream (7) - A Lady in Wondering, in Waiting


CHAPTER 7
A Lady in Wondering, in Waiting

*klak*

Earphone diletakkannya di atas meja.
Ia menghela napas panjang
Menengadah, menatap langit-langit kantornya.

'Kisah cintaku, kenapa begini?'
'Isi hatiku, kenapa seperti ini?'

Semenjak ia menyadari rasa
Yang perlahan mulai bergemuruh dalam hatinya
Setiap kali ia memikirkan tentang dia
Yang lambat laun mulai menarik perhatiannya

Ya, kupu-kupu mulai berputar dalam perutnya
Setiap kali ia mengingat wajahnya
Dan setiap kali ia melihatnya
Hatinya sontak bersukacita

Walau saat berjalan
Ia di ujung kiri, dan dia di ujung kanan
Ia tidak berkeberatan, sama sekali tidak
Cukuplah ada memori bersamanya

Kadang, kesal melanda
Ingin rasanya ia teriakkan di puncak gunung sana,
'Ijinkan aku kenal kau lebih jauh, sedikit saja!'
Akankah tepukannya tiada bersambut, tak bersuara?

Sang kakak berkata,
"Apa kau sudah berserah?"
'Mungkin belum,' batinnya
'Aku hanya berpikir untuk menyerah.'

"Tapi berserah beda dengan menyerah."
'Apa berserah sama dengan pasrah?'
'Tuhan, apa aku harus diam saja?'
'Tuhan, diam menanti itu sulit'

'Aku takut mendapat jawaban "Tidak" dariMu.'

Ia menatap kembali layar laptopnya.
Mari, sudah saatnya kembali bekerja.

Powered By Blogger