Kamis, 17 September 2020

A Scribble and A Dream (65) - The Fine Young Man In A Fine November

 Groom Walk Down The Aisle? | The Plunge

 THE FINE YOUNG MAN IN A FINE NOVEMBER


Verse:

Kupandang pintu
Yang terbuka itu
Menanti langkahmu
Menuju momen utamamu

Dan di antara melodi
Nyanyian jemari ini
Kilas balik menghiasi
Memori di dalam hati

Interlude:

Kau yang takut-takut mengintip
Dari balik jendela kelasku
Kau yang seringkali menyelinap
Bertualang dalam ingin tahumu

Reff:

Betapa sang waktu
Telah mengantarmu, membentukmu
Hingga kau tegap berdiri
Di hadapan kami, hari ini

Dan syukurku
Mengiring hidup barumu
Berjalanlah tanpa ragu
Bersama dia yang di sisimu

Hanya ini saja doa dariku
Tuhan terus kuatkanmu
Dalam menjaga janji sucimu

Outro:

And so I present this song
To the fine young man
Walking in a fine November 

P.S.:
"A fine young man". Cuma itu yang terbayang di benakku saat melihat sang pemuda yang duduk setiap hari di hadapanku di meja makan keluarga. Satu frase pendek yang terus membekas, disertai sebuah melodi yang terus mengiang di benak, sehingga terasa sayang dilupakan.

2 bulan, kurang sedikit. Itulah jumlah waktu yang kumiliki untuk menyelesaikan lagu ini.
Semoga bisa dituntaskan tepat waktu. 

***




Senin, 14 September 2020

Praying the Bible - Mazmur 14

  PRAYING THE BIBLE

MAZMUR 134

(Bacaan dari versi ESV)

Come, bless the Lord, all you servants of the Lord, who stand by night in the house of the Lord!
Lift up your hands to the holy place and bless the Lord!
May the Lord bless you from Zion, he who made heaven and earth!

Ya Tuhan, terima kasih karena sekali lagi Engkau sudah mengingatkan saya, bahwa Kaulah Sang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan bahwa Kaulah sumber segala berkat.

Tuhan, di sini saya, hambamu yang kurang setia, mohon Tuhan ampuni saya karena, boro-boro memujiMu, seringkali saya melupakan-Mu dalam kehidupan saya dan hidup melanggar kekudusan. Sungguh saya tidak layak untuk masuk ke tempat kudus-Mu dan memuji nama-Mu karena ketidaksetiaan saya.

Namun Tuhan, terima kasih juga karena dengan mengingat ketidaklayakan saya, saya pun mengingat kasih pengorbanan Kristus di kayu salib yang sudah menebus dosa saya, dan melayakkan saya yang tidak layak ini untuk bisa kembali masuk ke tempat kudus-Mu dan berelasi dengan-Mu.

Tuhan, sungguh indah pengorbanan Anak-Mu ini, yang adalah Kakak Sulung bagi kami semua, orang-orang tebusan ini. Ajarkanlah pada saya Tuhan untuk tidak main-main saat ibadah dan sungguh-sungguh masuk dengan penuh sukacita dan semangat untuk memuji-Mu, dengan kesadaran bahwa di mana pun saya hidup di dunia ini, itu semua adalah tempat kudus-Mu, bahkan tubuhku sendiri adalah bait kudus-Mu juga, Tuhan.

Sungguh kami tidak pernah kekurangan tempat untuk bisa memuji dan memuliakan nama-Mu, karena seluruh langit dan bumi ini adalah milik-Mu. Oleh karena itu, ajarkanlah saya untuk selalu mengingat bahwa seluruh hidup saya adalah ibadah di hadapan-Mu.

Tuhan, saya berdoa memohon supaya Tuhan bersedia mengingat dunia buatan-Mu yang saat ini sedang berkesusahan dan berduka akibat COVID-19. Tuhan, saya mohon, berbelas kasihan lah kepada kami, dan pulihkanlah kami. Biarlah Tuhan yang boleh mengajar dan membawa hati kami kembali kepadamu, termasuk hati para pembesar dan penguasa dunia yang harus membuat keputusan terkait COVID ini. Tuhan, hati kami berduka melihat keputusan-keputusan yang tidak bertanggung jawab dari para pemerintah kami, yang tidak takut akan Engkau. Ya Tuhan, mohon dengarlah keluh kesah kami, dan selamatkanlah kami dan rakyat kami. Datangkanlah keadilan-Mu dan anugerahkanlah hikmat-Mu, mohon jangan keraskan hati para penguasa kami. Terima kasih ya Tuhan. Dalam nama Anak-Mu yang tunggal, Yesus Kristus, kami sudah berdoa, amin.

Jumat, 11 September 2020

Praying the Bible - Mazmur 11

 PRAYING THE BIBLE

MAZMUR 11

(Bacaan dari versi ESV)

"In the Lord I take refuge"

Ya Tuhan, mohon ampuni dosaku karena seringkali, dalam menghadapi kesulitan, bukan pada-Mu saja aku berlindung, tapi kepada kekuatanku sendiri dan kepada orang-orang di sekitarku.

Memikirkan diri-Mu saja tidak, karena refleksku adalah berusaha memecahkan masalah ini secepat-cepatnya dengan kekuatan, kemampuan dan kepandaian saya sendiri.

Tolong ajarku untuk selalu memanggil nama-Mu terlebih dahulu dalam apapun masalah yang kuhadapi, bahkan dalam setiap kehidupanku sehari-hari, mohon Tuhan terus menaruh ingatan akan nama-Mu dalam hati dan pikiranku.

Ajarku untuk melepas dosa kesombongan ini, dan ajarku untuk berlindung dan bersandar pada kekuatan-Mu senantiasa, agar aku bisa belajar rendah hati, karena semua kekuatan, kesanggupan dan kemampuanku itu juga berasal daripada-Mu saja.

Terima kasih Tuhan, dalam nama Tuhan Yesus saya sudah berdoa, amin.

“Flee like a bird to your mountain, for behold, the wicked bend the bow; they have fitted their arrow to the string to shoot in the dark at the upright in heart; if the foundations are destroyed, what can the righteous do?”

Ya Tuhan, Bapa di Surga, saat aku merenungkan ayat ini, aku teringat akan anak-anak Tuhan, orang-orang Kristen yang menjadi pebisnis, politikus, mereka yang bergerak di bidang hukum, di bidang ekonomi, dan yang bekerja di pemerintahan. Di dalam pemuda, ada beberapa orang yang saya ingat, seperti Angga, bang Fansen dan John Nainggolan.

Merekalah yang berada dalam beberapa posisi paling rentan untuk "ditembak" oleh anak-anak si jahat, yang ingin menghancurkan mereka yang berhati lurus, orang-orang benar yang bijaksana.

Seringkali kondisi begitu devastating, Tuhan, hingga mereka, dan saya juga, merasa kecil hati, apakah damai sejahtera dan kebenaran Tuhan sungguh-sungguh akan terwujud di tengah dunia yang sudah begitu korup dan rusak ini, dan di tengah dosa yang begiu merajalela, sehingga malah menjadi suatu hal yang biasa.

Apakah perjuangan mereka, dan saya di profesi saya sendiri, akan menjadi suatu hal yang ternyata sia-sia? Akankah kami pergi tanpa melihat hasil buah perjuangan dan kerja keras kami? Tolong ampunilah hati kami yang sering ragu-ragu, dan mohon kuatkan semangat, hati, dan tenaga kami ya Tuhan, dalam terus menjalani panggilan kami.

Dalam skala yang lebih besar, Tuhan, ingatlah juga akan saudara-saudara kami di China yang saat ini sedang sungguh-sungguh mengalami penganiayaan yang bertambah berat, yang berusaha menekan dan menghancurkan iman mereka. Mereka mungkin tidak bisa lagi melarikan diri, namun Tuhan mohon tilik mereka dan kuatkan iman mereka satu persatu, di tengah kesulitan yang mungkin tidak bisa kami bayangkan, Tuhan. Biarlah Tuhan sungguh-sungguh menunjukkan kepada mereka bahwa Engkaulah tempat perlindungan dan gunung batu bagi mereka.

Terima kasih ya Tuhan, biarlah Tuhan boleh mendengar dan mengingat doa kami ini. Dalam nama Tuhan Yesus, saya sudah berdoa, amin.

The Lord is in his holy temple; the Lord’s throne is in heaven; his eyes see, his eyelids test the children of man. The Lord tests the righteous, but his soul hates the wicked and the one who loves violence.

Ya Tuhan, terima kasih bahwa Engkau sudah menebus kami, menang atas kematian dan sekarang boleh duduk di sebelah kanan Allah Bapa dalam segala kemuliaan-Mu.

Tuhan, kami yakin Engkau melihat apa yang saat ini terjadi, dan apa bila semua kondisi saat ini, malapetaka, marabahaya, tekanan, penganiayaan, sakit penyakit (pandemi) dan dukacita kami, adalah ujian daripada-Mu untuk memurnikan iman kami, mohon beri kami sukacita dan kekuatan untuk dapat melaluinya ya Tuhan, dan biarlah kami boleh keluar dari semua ini sebagai anak-anak yang lebih dekat pada-Mu, lebih mengasihi-Mu, dan lebih beriman keada-Mu ya Tuhan.

Ajarlah kami untuk boleh hidup sesuai kehendak-Mu di tengah situasi dan ujian saat ini. Kami yakin Engkau, Tuhan yang melihat dan yang berkuasa duduk di atas takhta di Surga, adalah Allah yang tidak akan tinggal diam, dan tidak akan membiarkan anak-anak-Mu jatuh menjadi orang yang jahat, fasik dan menyukai kekerasan.

Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus kami sudah bersyukur dan berdoa, amin.

Let him rain coals on the wicked; fire and sulfur and a scorching wind shall be the portion of their cup. For the Lord is righteous; he loves righteous deeds; the upright shall behold his face. 

Ya Tuhan, ajarlah kami untuk mengasihi sesama kami, dengan tidak membalaskan dendam, karena pembalasan dan penghukuman adalah hak-Mu. Kami yang sama berdosanya dengan mereka, tidak layak untuk menghakimi dan menghukum mereka.

Tapi Tuhan, mohon ampunilah saya, jika saya masih sering berbuat dosa, dan hidup melupakan Engkau, sehingga sebetulnya tidak ada perbedaan antara saya dengan orang fasik tersebut dari segi cara hidup. Tuhan, mohon Tuhan mengajar saya untuk selalu hidup benar agar hidup saya bisa menyukakan hati tuhan dan sesuai dengan kehendak-Mu. Terima kasih Tuhan, dalam nama Tuhan Yesus, saya sudah berdoa, amin.

***

Kamis, 10 September 2020

A Scribble and A Dream (64) - Missing You, Just A Little Bit


  MISSING YOU, JUST A LITTLE BIT


Here I am
Listening to these love songs
That suddenly makes sense
After all this time

And now,
I think I'm starting to see
What people meant when they say
"I'm in love."

It's so simple
It's not even that complicated

Thinking about you out of the blue
Talking about you with my close friends
And missing you, just a little bit
Amidst my busy day

That's what it is
That's all it is

Will it stay this way?
Will it be this subtle,
In the days to come?

I don't know.
I guess, time will tell.

***


Kamis, 03 September 2020

A Scribble and A Dream (63) - The Question, The Anxiety, and An Unseen Future

Path Through A Misty Forest During A Foggy Winter Day Stock Photo -  Download Image Now - iStock

The Question, The Anxiety, and An Unseen Future

 August 23, 2020.

 The day she finally decided to told everything to the person she counted as part of her inner circle.

How she felt 4 years ago.

All the painful roller coaster of an immature, unrequited feeling.

Her decision back then to distance herself from him, to avoid lashing out at him hurtfully.

There's only one thing she kept to herself. That this talk was intended to be her last decision to finally let everything go, since she saw no other possible development for anything romantic between them.

She was expecting a rejection, and a polite "Wait", or "No" for an answer. To be precise, maybe that's what she was hoping, deep inside her heart. An end to something that was never there to begin with.

His answer was not as expected. He told her that after a very long observation on a few of the girls he had known, and a long consideration, he decided that she was still the first in his list of "the person he could live his life with".

"I was about to told you this sooner or later. But since you already told me this, let me ask you now. Do you want to try going out with me?"

She was surprised. As she noticed her heart pounding a bit faster, she tried to stay collected and calm. Her voice resounded. Maybe a second chance wouldn't hurt.

"Okay, let's try."

***

September 3, 2020. Today.

"Any daily communication with him since then?"

A well-meaning question from her groom-to-be little brother just a while ago.

To which the answer is... NO.

Apart for 2 longer phone calls on August 24 and 26, and some short text messages on September 2, discussing their plans for a casual meet up. The rest are just normal days without any contacts whatsoever.

That is already significantly more frequent compared to their usual text messages, in which they can spend a few weeks without any single personal related chats.

But, in all 3 instances, she was the one initiating the contact. An eerie replay of what happened 4 years ago.

It's as if there's a final wall between them, one that is hard to tear down. One which she is unsure on how to deal with. One which, she fears, would bring further problems down the road if not addressed accordingly.

A lack of communication. A confusing direction, unclear signs from him.

And an anxious, wavering heart inside her.

She suddenly feels a small regret in her heart for saying "yes" too quickly instead of asking him to prove himself first.

It's as if she is back on that misty forest 3 years ago.

But now, instead of fighting the fog frantically and desperately - trying to reach the fairy-tale-like lights at the end of the road - she stands still at the forest entrance, bewildered of where to start walking, feeling unsure of the unseen future.

She gazes up to the imaginary sky above, asking in her heart, "God, will it work, or will it not work? Will I hurt myself once more? Is this the path where I'll still be the one to call it quits after giving him a second chance? How can I know if this is already in Your time, or if it's not?"

Her long-time suppressed, forgotten melancholy rushes amidst the soft jazzy cafe soundtrack echoing in her bedroom.

She exhales deeply to control her tears, and resumes her work-from-home overtime.

It's something to be saved for the Sunday conversation with him, on the day when they will finally meet up for dinner.

Maybe she'll find hints of the answers then.

***

Powered By Blogger