Tampilkan postingan dengan label Relay Writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relay Writing. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2020

The Walk to Remember (6) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

Doctor's Desk And Equipment Photograph by Lewis Houghton/science ...
CHAPTER 6

Dari tengah lubang hitam yang menyedotnya, muncul tangan dingin yang mencengkeram lengannya kuat-kuat. "Bangun, Nevaeh."

Suara yang tak asing di telinga itu seakan membetotnya dari dunia kegelapan, dan menariknya keluar seketika itu juga. Perlahan ia mengerjapkan matanya.

Kelopak matanya terasa berat. Badannya kaku dan kakinya kesemutan. "Kamu bisa mendengar suara saya dengan jelas?" Ia mengangguk pelan. Sebelum sempat berkata apa-apa, pria separuh baya itu bertanya, "Apakah kamu ingat siapa namamu?"

"Ya," jawabnya parau, "Nevaeh Johnson".

"Bagus. Kamu tahu siapa saya?" tanyanya, sambil menuliskan sejumlah catatan dalam bukunya.

"Ya, Dokter Thornton." Nevaeh mengusap dahinya, seakan berusaha menghapus kabut yang memenuhi kepalanya.

Dokter Thornton tersenyum singkat, nyaris datar. Ia mengambilkan segelas air putih yang telah disiapkannya di atas meja, dan Nevaeh menerimanya dengan terima kasih.

"Apakah kamu ingat bagaimana kamu bisa sampai kemari, Nevaeh?"

Nevaeh menggelengkan kepalanya. "Kamu sudah kembali ke waktu sekarang. Hari ini tanggal 27 Januari 2022."

Nevaeh merasa sungguh lega, akhirnya mimpi buruk yang melandanya berakhir. Ya, setidaknya untuk saat ini.

Sudah kesekian kalinya hal ini terjadi, tapi baru kali inilah yang terparah di antara episode kumat sebelumnya.

"Kamu ditemukan pingsan di pinggir jalan pagi ini. Karena kamu menempatkan kartu nama saya di dompetmu sebagai kontak darurat, mereka segera mengantarkanmu kemari. Apa yang kamu rasakan saat ini? Apakah kamu ingin berbicara tentang kejadian yang baru saja kamu alami?"

(EO)

The Walk to Remember (5) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

Starbucks: We are closing all of our Central Jakarta outlets ...
CHAPTER 5

Dia buru-buru meloncat ke trotoar, lalu menundukkan kepalanya, meminta maaf kepada siapa entah. Mungkin meminta maaf kepada seluruh pelintas jalan yang tadi terganggu dengan apapun yang terjadi pada saat dia terdiam di jalan.

Apa itu barusan, mimpi di siang bolong, pikirnya. Ia melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk gedung kantornya.

Tiba-tiba ia terbelalak. Gedung itu gelap. Tutup. Kosong. Seolah tidak pernah ada kehidupan di sana.

Sontak ia kembali melihat sekitar.
Jalan raya. Dengan segala kebisingannya. Langit abu-abu kota.

Tapi kenapa?

Seorang pria lewat sambil membaca koran. Detaknya terhenti saat melihat edisi koran tersebut.

“Permisi pak, sekarang tanggal berapa ya?” ujarnya ragu.

Ia cuma menunjuk ke papan penanda jalan dan jam di perempatan jalan.

14 Januari 2016.

Belum sempat ia mencerna jawaban itu, tiba-tiba terdengar ledakan membahana.

Lagi-lagi! Ada apa sih hari ini?

Mendadak orang-orang berlarian panik, diiringi rentetan suara peluru.

Hari itu, di Osinga… Ah!

Alih-alih melarikan diri, ia malah masuk ke dalam sebuah cafe di sebelah lokasi ledakan tersebut. Langkahnya buru-buru, matanya berkelana lekas-lekas.

Di mana dia? Di mana? Di mana???

Tatapnya terhenti di meja dengan sepasang pria dan wanita muda yang sedang bercengkrama. Mereka yang selalu ia rindukan sampai saat ini.

“Lari! Ohana! LARIII!!!”

Suaranya tenggelam di balik suara ledakan kedua, dan kali ini dengan sensasi sayatan besi panas di punggungnya. Sang pria dan wanita muda tergeletak diam di lantai.

Sang pemudi menjerit sejadi-jadinya, sebelum api merah menyala dari ledakan menyergap pandangannya.

Lantai kembali terbuka dan membawanya jatuh dalam kegelapan yang seolah tak berdasar.

“Kau harus rela melepas.” Suara Dokter Thornton bergema.

(SL)

The Walk to Remember (4) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

The Maze Runner' Unveils First Look at Creepy Labyrinth - YouTube
CHAPTER 4

Tutup mata, ujarnya. Ingat, temukan pusatnya. Semua labirin pasti mempunyai titik tengah. Temukan itu, dan kamu akan menemukan jalan keluarnya.

Wajah orang-orang di sekelilingnya meleleh seperti lilin. Lantai ubin di bawahnya retak, dan kasurny ambruk.

Sebelum ia mampu membentuk kata di bibirnya, bumi sudah mengagakan mulutnya dan menelannya.

Di satu menit ia ada, di menit berikutnya dia hilang. Masuk dalam lompatan waktu, keluar di satu kehidupan, melompat lagi, dan masuk ke kehidupan lain.

Ia berusaha menemukan jalan keluar.

Di mana pintu masuk labirin itu? Di mana aku saat ini? Di mana titik tengahnya?

Semakin dekat ke titik tengah, semakin kuat guncangannya. Terus jalan, kau akan segera sampai.

Di loncatan selanjutnya ia sampai ke sebuah tanah pemakaman. Ia terperangkap dalam tubuh seorang pria tua yang tengah meratap di depan nisan. Tangannya yang keriput memeluk batu nisan itu.

Ia tahu ia sudah semakin dekat ke titik tengah ketika seluruh tanah pemakaman berguncang, dan tulang belulang dari balik kubur mulai berserakkan keluar.

Segenap pohon tumbang dari ujung ke ujung, dan ia mulai berlari dengan kencang.

Ini dia, di sini jalan keluarnya.

Loncatan berikutnya menelannya dalam kegelapan yang begitu dalam. Singkat dan sangat menyakitkan.

Warna merah kembali menghajarnya bersamaan dengan bunyi yang memekakkan telinga.

Bunyi klakson mobil dan suara pengemudi yang mengomelinya dengan sumpah-serapah. "Apa yang salah denganmu? Menyingkirlah dari jalan kalau kau masih sayang nyawamu!" Lampu pejalan kaki sudah kembali merah.

(EO)

The Walk to Remember (3) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

Hospital Ceiling Pov Stock Footage Video (100% Royalty-free ... 
CHAPTER 3

Ia terbangun mendadak.
Semerbak aroma rumah sakit menyergapnya, diiringi silau lampu yang terpantul oleh tembok-tembok putih.

Kepalanya sakit rasanya.

Seorang dokter buru-buru menghampiri dan memeriksa kondisinya.

“Apa yang kau rasakan sekarang, nona Johnson?”

Ia mengernyitkan dahinya. Ia tak mengenali nama itu. Itukah namanya?

Perlahan-lahan masing-masing wajah orang yang hadir di ruangan tersebut berubah.

Seorang wanita paruh baya mendadak menangis histeris. Seorang pemuda mengguncang-guncang tubuhnya dengan wajah panik, menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.

Hentikan! Hentikan!

Siapa kalian semua? Siapa aku?

(SL)

The Walk to Remember (2) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

What Causes Blurred Vision and How To Deal With It - GUNNAR 
CHAPTER 2

Persis di penghujung jalan, mendadak semua berubah menjadi merah. Oh, tidak! Kegilaan apa lagi ini, pikirnya. Hanya selangkah lagi menuju trotoar.

Merah, kental seperti darah. Warna merah tebal sepanjang mata memandang. Seperti dinding yg tak jelas titik mula dan titik akhirnya.

Begitu pekat, nyaris bisa disentuhnya dengan ujung jari layaknya benda padat.

Baru saja ia mengira bisa melalui satu hari saja dengan normal. Tanpa insiden apapun.

Langkahnya terhenti dan sejenak pikirannya melayang pada pertemuannya dengan Dokter Thornton minggu lalu.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

(EO)

The Walk to Remember (1) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

Feet of School Girl Walking Stock Footage Video (100% Royalty-free ... 
CHAPTER 1

Sebuah lampu lalu lintas.
Sebuah perempatan yang sibuk.
Mobil-mobil sibuk lalu lalang, sambil menyanyikan klakson mereka.

Sang pemudi memalingkan wajahnya dan menatap ke seberang jalan.
Berapa kali ia sudah melakukannya?
Ah sudahlah, tak perlu dihitung. Buang-buang waktu saja.

Lampu pejalan kaki perlahan berubah menjadi hijau.
Kakinya mulai melangkah konstan menuju gedung kantor tua berwarna coklat itu.
Sekejap ia menatap langit.

Baginya, hidup sudah selalu seperti ini.
Ah, seandainya ada sesuatu yang baru, yang mendebarkan!
Sesuatu yang, mungkin, akan menggugahnya dengan gairah dan semangat yang membara.
Sesuatu yang ia bersedia lakukan dengan hati gembira.

Ia menghirup udara berpolusi sekali lagi, sambil menghela napas.
Langkahnya segera bertambah cepat, sebelum lampu pejalan kaki berubah merah.

(SL) 
Powered By Blogger