CHAPTER 2
Persis di penghujung jalan, mendadak semua berubah menjadi merah. Oh, tidak! Kegilaan apa lagi ini, pikirnya. Hanya selangkah lagi menuju trotoar.
Merah, kental seperti darah. Warna merah tebal sepanjang mata memandang. Seperti dinding yg tak jelas titik mula dan titik akhirnya.
Begitu pekat, nyaris bisa disentuhnya dengan ujung jari layaknya benda padat.
Baru saja ia mengira bisa melalui satu hari saja dengan normal. Tanpa insiden apapun.
Langkahnya terhenti dan sejenak pikirannya melayang pada pertemuannya dengan Dokter Thornton minggu lalu.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Begitu pekat, nyaris bisa disentuhnya dengan ujung jari layaknya benda padat.
Baru saja ia mengira bisa melalui satu hari saja dengan normal. Tanpa insiden apapun.
Langkahnya terhenti dan sejenak pikirannya melayang pada pertemuannya dengan Dokter Thornton minggu lalu.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
(EO)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar