Jumat, 08 Mei 2020

The Walk to Remember (5) - A Relay Online Novel of Eileen and Sofia

Starbucks: We are closing all of our Central Jakarta outlets ...
CHAPTER 5

Dia buru-buru meloncat ke trotoar, lalu menundukkan kepalanya, meminta maaf kepada siapa entah. Mungkin meminta maaf kepada seluruh pelintas jalan yang tadi terganggu dengan apapun yang terjadi pada saat dia terdiam di jalan.

Apa itu barusan, mimpi di siang bolong, pikirnya. Ia melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk gedung kantornya.

Tiba-tiba ia terbelalak. Gedung itu gelap. Tutup. Kosong. Seolah tidak pernah ada kehidupan di sana.

Sontak ia kembali melihat sekitar.
Jalan raya. Dengan segala kebisingannya. Langit abu-abu kota.

Tapi kenapa?

Seorang pria lewat sambil membaca koran. Detaknya terhenti saat melihat edisi koran tersebut.

“Permisi pak, sekarang tanggal berapa ya?” ujarnya ragu.

Ia cuma menunjuk ke papan penanda jalan dan jam di perempatan jalan.

14 Januari 2016.

Belum sempat ia mencerna jawaban itu, tiba-tiba terdengar ledakan membahana.

Lagi-lagi! Ada apa sih hari ini?

Mendadak orang-orang berlarian panik, diiringi rentetan suara peluru.

Hari itu, di Osinga… Ah!

Alih-alih melarikan diri, ia malah masuk ke dalam sebuah cafe di sebelah lokasi ledakan tersebut. Langkahnya buru-buru, matanya berkelana lekas-lekas.

Di mana dia? Di mana? Di mana???

Tatapnya terhenti di meja dengan sepasang pria dan wanita muda yang sedang bercengkrama. Mereka yang selalu ia rindukan sampai saat ini.

“Lari! Ohana! LARIII!!!”

Suaranya tenggelam di balik suara ledakan kedua, dan kali ini dengan sensasi sayatan besi panas di punggungnya. Sang pria dan wanita muda tergeletak diam di lantai.

Sang pemudi menjerit sejadi-jadinya, sebelum api merah menyala dari ledakan menyergap pandangannya.

Lantai kembali terbuka dan membawanya jatuh dalam kegelapan yang seolah tak berdasar.

“Kau harus rela melepas.” Suara Dokter Thornton bergema.

(SL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger