CHAPTER 6
Dari tengah lubang hitam yang menyedotnya, muncul tangan dingin yang mencengkeram lengannya kuat-kuat. "Bangun, Nevaeh."
Suara yang tak asing di telinga itu seakan membetotnya dari dunia kegelapan, dan menariknya keluar seketika itu juga. Perlahan ia mengerjapkan matanya.
Kelopak matanya terasa berat. Badannya kaku dan kakinya kesemutan. "Kamu bisa mendengar suara saya dengan jelas?" Ia mengangguk pelan. Sebelum sempat berkata apa-apa, pria separuh baya itu bertanya, "Apakah kamu ingat siapa namamu?"
"Ya," jawabnya parau, "Nevaeh Johnson".
"Bagus. Kamu tahu siapa saya?" tanyanya, sambil menuliskan sejumlah catatan dalam bukunya.
"Ya, Dokter Thornton." Nevaeh mengusap dahinya, seakan berusaha menghapus kabut yang memenuhi kepalanya.
Dokter Thornton tersenyum singkat, nyaris datar. Ia mengambilkan segelas air putih yang telah disiapkannya di atas meja, dan Nevaeh menerimanya dengan terima kasih.
"Apakah kamu ingat bagaimana kamu bisa sampai kemari, Nevaeh?"
Nevaeh menggelengkan kepalanya. "Kamu sudah kembali ke waktu sekarang. Hari ini tanggal 27 Januari 2022."
Nevaeh merasa sungguh lega, akhirnya mimpi buruk yang melandanya berakhir. Ya, setidaknya untuk saat ini.
Sudah kesekian kalinya hal ini terjadi, tapi baru kali inilah yang terparah di antara episode kumat sebelumnya.
"Kamu ditemukan pingsan di pinggir jalan pagi ini. Karena kamu menempatkan kartu nama saya di dompetmu sebagai kontak darurat, mereka segera mengantarkanmu kemari. Apa yang kamu rasakan saat ini? Apakah kamu ingin berbicara tentang kejadian yang baru saja kamu alami?"
(EO)
