
DANGKAL
Manusia dangkal.
Apa itu artinya?
Tak seorangpun mau disebut dangkal.
Tapi kenapa marah?
Kenapa sedih?
Aku memandang sekeliling.
Mereka yang memutuskan untuk vokal.
Suarakan panggilan demi keadilan.
Gemakan seruan ambil tindakan.
Menyebut kebodohan sebagai kebodohan.
Menjadi usikan di tengah khalayak sosial.
Tanpa rasa takut, penuh api membara.
Seperti kau dan sahabat-sahabatmu.
Aku kagum.
Dan aku memandang wajahku di cermin itu.
Manusia yang tak melakukan apa-apa.
Aku yang cuma sibuk urus diri sendiri.
Aku yang cuma berlari dari satu tugas ke tugas lain.
Hari demi hari, hari demi hari.
Cuma tenggelam ditelan arus waktu.
Aku yang jarang bertanya ke yang lain,
"Apa kabarmu?"
"Apa kau baik-baik saja?"
Ah, tak sanggup aku bertanya terus demi basa basi.
Aku yang menolak baca berita,
Dan memilih jadi seperti pertapa di dalam goa.
Karena tak kuasa pahami kisah dunia.
Siapa yang benar-benar benar, dan siapa yang benar-benar salah.
Mungkin...
Inilah dangkal.
Akulah contohnya.
Si manusia dangkal.
Si Wendy yang menolak bertumbuh.
Dan terus mencari dunia Peter Pan.
Akankah kau panggil ku dangkal?
Jika iya pun, tampaknya aku tak peduli lagi.
Karena sesakit apapun rasanya.
Itu fakta, dan aku tak menyangkalinya.
Mungkin aku cuma akan pergi.
Karena itu lebih mudah.
Karena aku tak mau kau berteman
dengan manusia dangkal.
Itu buruk bagimu.
Jadi, kupikir...
Aku pamit dulu.
Merci beaucoup, mon ami.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar