Rabu, 15 Juli 2015

My Little Story

June 11, 2010 at 9:51pm


Dengan lembut kugesek senar cello itu. Suaranya mengalun indah, mengelus jiwaku. Aku tersenyum.
Kupandang sekelilingku. Teman-teman musisiku. Perpaduan suara yang manis, harmoni yang mengugah hati. Aku memejamkan mata, menikmati kebahagiaan ini.

***

Aku terbangun. Kulirik HP. Jam 8 pagi.

Aku mendesah panjang. Mimpi yang sangat indah dan manis. Sayang aku tidak bisa bermain cello. Tepatnya, suka dan ingin bisa tapi tidak ada kesempatan belajar. Aku memang pernah belajar piano klasik, tapi, yah, aku tipe murid yang biasa-biasa saja. Tidak menonjol, juga tidak jelek.

Kakiku melangkah menuju ke kamar mandi. Hari ini Senin, dan aku harus ke kampus untuk menyelesaikan skripsi dan asistensi lab seperti biasa. Aku bersiap-siap, menyambar sarapanku, pamit kepada kedua orangtuaku lalu berangkat.

Sesampainya di kampus, aku melangkah menuju ke kelas tempat aku mengajar. Partner mengajarku sedang mengambil peralatan yang kami perlukan. Mata kuliah ini salah satu mata kuliah kesukaanku, uditing. Sambil menunggu, pikiranku melayang.

Sebuah melodi mulai mengalun dalam pikiranku. Salah satu dari sedikit lagu ciptaanku yang pasti kelak akan kulupakan, dan ini melodi favoritku. Setiap kali melodi itu mengalun, betapa aku merasakan kerinduan memelukku erat. Entah kerinduan kepada apa.

Kelas asistensi lab dimulai. Kusimpan baik-baik melodi itu dalam hatiku, berharap dia masih di sana saat aku selesai mengajar, lalu kembali ke dalam realita dunia. Di sini aku, seorang mahasiswi Akuntansi tingkat akhir, mengajar untuk adik-adik tingkatku.

Aku berjalan ke belakang kelas untuk mengontrol. Lalu kudengar namaku dipanggil. Suara teman setimku saat lomba yang ternyata juga menjadi mahasiswa di kelas ini. "Bagaimana hasil wawancara di Kantor Akuntan Publik Big 4 kemarin?" Kupandang dia, lalu kujawab dengan tersenyum,"Lolos".

"Ya iyalah, uda gue duga, lu mah pasti lolos. Selamat yakh...", balasnya. "Iya, thanks ya..." Aku tersenyum sekali lagi, lalu kembali berkeliling di kelas.

Kelas asistensi lab sudah selesai. Aku berbenah untuk menuju ke perpustakaan. Karena aku akan mulai bekerja 3 bulan lagi, aku harus menyelesaikan skripsi bulan ini supaya bisa sidang dan membereskan segala urusanku tepat pada waktunya.

Melodi itu lagi... Kembali aku disergap kerinduan, namun aku tidak mau melepaskannya. Sambil mengetik, kunyanyikan melodi itu dalam hatiku. Semakin lama, rasa rindu ini semakin kuat. Ingin kutulis, namun aku bukan tipe orang yang punya kemampuan perfect pitch yang baik, maka aku tidak tahu not apa yang harus kutulis. Oh, sedikit penjelasan, buat yang tidak tahu apa itu perfect pitch, itu adalah kesanggupan untuk mengetahui nada-nada lagu yang saat itu didengarnya.

Otakku berkelana. Apa ini jalan hidupku? Berkarier di bidang akuntansi? Kalau musik? Atau apa sih? Kalau ingin mengikuti jalur normal, jalanku sudah benar. Siapa sih lulusan Akuntansi yang tidak mau bekerja di Kantor Akuntan Publik Big 4?

Namun, kalau aku memilih jalur ini, mungkin aku harus berpisah dengan musik klasik. Tidak akan ada waktu untuk berlatih dan bermain, hanya bisa jadi pendengar saja.

Memikirkan hal itu, mendadak aku merasa kesepian. Aku tahu, dunia musik klasik itu suatu dunia yang dingin, mereka yang diterima dan diakui hanyalah mereka yang muda dan berbakat, dan aku jelas tidak termasuk di sana. Kemungkinan kalau aku memilih jalan itu, aku akan jadi seorang mahasiswi biasa yang tidak menonjol, musisi biasa yang tidak dikenal, paling banter jadi guru piano, yang saat ini memang sedang kujalani secara paruh waktu. Kadang terbersit keinginan kuat menjadi pengarang, tapi kutepis jauh-jauh. Aku suka lagu ciptaanku, tapi kurasa aku tidak memiliki kualitas yang diperlukan oleh seorang pengarang lagu.

Aku tersadar dari pengembaraanku. Kutatap laptop yang menyala di hadapanku. Tanganku kembali menari di atas keyboard. Mungkin aku belum akan mendapatkan jawaban atas semua ini, jadi saat ini, biarlah kulakukan apa yang bisa kulakukan untuk mencapai tujuan pertama: lulus kuliah, menjadi S.E. dengan nilai sebaik mungkin. Lalu mungkin bekerja dulu satu dua tahun, sambil terus mencari dan berharap aku menemukan apa yang sesungguhnya menjadi hasrat hidupku. Yah, jalur yang normal memang, tapi mau bagaimana lagi?

Aku kembali menghadapi fakta kehidupan, sambil ditemani melodi syahdu itu, sambil menikmati kerinduanku seorang diri.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar